Ilustrasi transplantasi rambut
INDOZONE.ID – Siapa sangka semakin banyak pria Indonesia yang memilih melakukan transplantasi rambut. Alasannya bukan sekadar soal penampilan, tapi juga kebutuhan untuk meningkatkan rasa percaya diri di tengah tekanan sosial dan profesional yang makin tinggi.
Namun di balik meningkatnya minat ini, muncul fenomena baru yang perlu diwaspadai yakni maraknya klinik yang mengaku menggunakan teknik Direct Hair Implantation (DHI). Padahal sebenarnya tidak mengikuti standar resminya.
Metode Direct Hair Implantation (DHI) dikenal sebagai teknik transplantasi rambut modern yang hasilnya sangat natural. Popularitasnya membuat banyak klinik berlomba-lomba menggunakan label “DHI”, meski yang dilakukan hanyalah modifikasi dari metode FUE konvensional.
Keunggulannya terletak pada Single-Step Implantation, yaitu proses satu langkah menggunakan alat eksklusif DHI Implanter. Dengan alat ini, dokter dapat menanam folikel rambut tanpa membuat sayatan terlebih dahulu, sekaligus mengatur kedalaman, arah, dan sudut tumbuh rambut agar terlihat sangat alami.
Seluruh prosedur dilakukan langsung oleh dokter yang sudah melalui pendidikan dan sertifikasi DHI Global, bukan oleh teknisi. Folikel rambut juga langsung ditanam setelah diambil untuk menjaga tingkat keberhasilan hingga 97%, jauh lebih tinggi dibanding metode konvensional.
Perhitungan jumlah folikel dilakukan secara personal dan disesuaikan dengan bentuk wajah serta kondisi rambut tiap pasien.
Baca juga: Lagi Tren di Kalangan Artis, Apa Itu Transplantasi Rambut dan Pengerjaannya?
Banyak klinik yang mengklaim memakai teknik DHI padahal yang dilakukan hanya prosedur dua langkah ala FUE, membuat saluran lalu menanam folikel, namun diberi label “DHI” demi meningkatkan prestise.
Perlu diketahui, teknik DHI asli dikembangkan eksklusif oleh DHI Global Medical Group, lembaga medis internasional yang telah berdiri sejak 1970 di Athena, Yunani, dan memiliki lebih dari 70 klinik resmi di 45 negara.
Teknik ini dilakukan sesuai protokol medis internasional mulai dari konsultasi awal, persiapan tindakan, proses implantasi, hingga perawatan pasca prosedur.
Jika ketahuan palsu, hasil yang muncul jauh dari natural, rambut tumbuh dengan arah yang salah, kepadatan tidak merata, hingga muncul jaringan parut yang terlihat jelas.
Diingatkan Pendiri Farmanina Hair & Aesthetic Clinic sekaligus representatif resmi DHI Global di Indonesia, Dr. Cintawati Farmanina, M.Bio (AAM), para pria harus waspada sebelum melakukan transplantasi rambut. Dampaknya sangat berbahaya tanpa disadari.
“Kami ingin memastikan masyarakat Indonesia mendapatkan hasil transplantasi rambut yang aman, alami, dan sesuai standar global, bukan versi tiruannya,” terangnya kepada wartawan.
Baca juga: 10 Hal yang Perlu Dilakukan Sebelum Transplantasi Rambut Pertama Kali
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan