D’Forum: The Miracle of Vitamin D” dalam rangka merayakan lima tahun Prove D3 di Jakarta
INDOZONE.ID - Vitamin D selama ini dikenal sebagai nutrisi penting untuk menjaga kesehatan tulang dan daya tahan tubuh. Namun, banyak yang belum menyadari bahwa vitamin D juga punya peran besar dalam kesuburan dan keberhasilan program hamil.
Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Merry Amelya Puspita Sidabutar, Sp.OG dalam acara D’Forum: The Miracle of Vitamin D” dalam rangka merayakan lima tahun Prove D3 di Jakarta, yang menemukan bahwa banyak pasien program hamil yang sulit mendapatkan keturunan ternyata mengalami defisiensi vitamin D.
Menurut dr Merry, kekurangan vitamin D bisa membuat wanita lebih sulit hamil. Karena tubuh wanita menjadi kurang siap menerima embrio, sehingga peluang pembuahan dan kehamilan menurun.
"Kemudian pada pasien-pasien yang susah hamil, atau sudah program, kok nggak berhasil-berhasil, dilakukan penelitian juga, ternyata banyak mengalami defisiensi vitamin D. Ternyata vitamin D ini juga berdampak, hamil itu jadi susah untuk menerima kehamilan,” ujar dr Merry di Jakarta.
Ditegaskan sang dokter, vitamin D berperan dalam kualitas ovulasi, perkembangan sel telur, hingga kesiapan rahim menyambut kehamilan. Jika tubuh kekurangan vitamin D sebelum hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti hipertensi dan preeklamsia.
“Vitamin D-nya dikoreksi, dibenerin dulu selama 6 bulan, hidup sehat dulu, yang obesitas atau overweight dibenarkan dulu, masa tubuhnya baru boleh hamil. Jadi dari siklus haid, kualitas telur, sampai kehamilannya semuanya sangat dipengaruhi,” ungkap sang dokter.
Selama ini, dikatakan dr Merry, banyak pasangan hanya fokus pada ovulasi dan waktu hubungan saat program hamil. Padahal kualitas telur, nutrisi, hingga gaya hidup juga memegang peranan penting.
Di banyak negara, pemeriksaan kesuburan dimulai dari evaluasi nutrisi termasuk vitamin D, bukan langsung pada hormon dan tindakan medis.
dr Merry menekankan pentingnya mengenali kondisi tubuh terlebih dahulu dengan cek nutrisi, termasuk logam berat seperti merkuri yang diam-diam banyak ditemukan pada pasien.
"Ya, ini yang sering disepelekan ya, kadang-kadang kita tuh kalau program hamil, maunya cuma obat hormon, kapan saya bisa hamil, kapan saya berhubungan, dah hamil gitu aja. Tapi udah mikirkan, kalau saya hamil nanti bagus gak ya, kira-kira kualitas kehamilannya, bayi-bayinya sehat gak ya, nanti saya ada risiko,” ujarnya.
Mindset ini berbeda sekali dengan orang-orang di Eropa sana. Kalau di Eropa sana itu mau program hamil, ya dicek bukan USG, tapi dicek nutrisinya.
Baca juga: Ibu Hamil Wajib Tahu! Begini Cara Menghindari Virus Tokso agar Janin Tetap Aman
“Tapi kalau sekarang beda sih, beberapa pasien saya nih, udah cek yang namanya logam berat ya, jadi sekarang kita sampai cek merkurinya dulu, dicek logam-logam berat, dan surprisingly ya, kemarin 5 akhir pasien saya yang dicek logam berat, 4 tuh merkurinya tinggi semuanya,” kata dr Merry.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan