Ilustrasi penderita demensia (Pixabay/Gerd Altmann)
INDOZONE.ID - Pada suatu studi terbaru mengungkapkan, sejumlah infeksi dan penyakit tertentu, diduga berkontribusi terhadap peningkatan risiko demensia.
Meski faktor risiko demensia telah lama diteliti, temuan ini memberikan perspektif baru terkait peran infeksi berat dalam perkembangan penyakit tersebut.
Dikutip dari Medical News Today, penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal PLOS Medicine, dan melibatkan lebih dari 62.000 penderita demensia.
Penelitian berbasis registri nasional di Finlandia ini, menganalisis data dari 62.555 orang dengan demensia, dan 312.772 kelompok kontrol tanpa demensia. Rata-rata usia peserta adalah 81 tahun.
Para peneliti menelusuri riwayat penyakit hingga 20 tahun, sebelum diagnosis demensia. Mereka mengidentifikasi penyakit yang muncul dengan prevalensi minimal 1 persen pada kasus demensia.
Baca juga: Lupa Nama hingga Sering Tidak Ingat Taruh Barang? Itu Tanda Penuaan Biasa atau Gejala Demensia?
Lalu, mereka mengevaluasi hubungannya dengan risiko penyakit tersebut.
Hasilnya menunjukkan, infeksi berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit, dapat menjadi faktor risiko independen terhadap demensia, bahkan setelah memperhitungkan kondisi medis lain.
Ilustrasi merawat orang dengan demensia. (Pexels/Andrea Piacquadio)
Secara keseluruhan, peneliti menemukan 29 penyakit yang berhubungan dengan peningkatan risiko demensia. Beberapa di antaranya termasuk:
Menariknya, infeksi seperti sistitis rata-rata terjadi sekitar 6,5 tahun sebelum diagnosis demensia. Sementara infeksi bakteri lainnya, terjadi sekitar 5,5 tahun sebelumnya.
Peneliti utama, Pyry Sipila, menjelaskan, demensia berkembang selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
“Temuan kami menunjukkan bahwa infeksi berat mungkin mempercepat penurunan kognitif yang sudah ada,” ujarnya.
Pendapat serupa disampaikan oleh Brent Masel, yang menyebutkan, infeksi serius hingga membutuhkan rawat inap dapat menjadi faktor risiko tersendiri dalam perkembangan demensia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today