telur rebus (pixabay @congerdesign)
INDOZONE.ID - Selama puluhan tahun, telur sering menjadi “kambing hitam” soal kolesterol. Banyak orang sengaja menghindari kuning telur karena takut kadar kolesterol melonjak dan memicu penyakit jantung.
Namun, plot twist-nya: anggapan itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Bahkan, penelitian terbaru justru menunjukkan hal yang cukup mengejutkan, telur bisa jadi bukan masalahnya.
Di akhir tahun 60-an, telur sempat dicap sebagai makanan berisiko tinggi. Banyak orang langsung mengurangi konsumsi telur, bahkan hampir menghilangkannya dari menu harian.
Efeknya nyata. Dalam beberapa dekade, konsumsi telur turun drastis karena rasa takut yang terbentuk dari rekomendasi kesehatan saat itu.
Padahal, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, para ahli mulai menyadari satu hal penting: masalahnya bukan sesederhana “makan kolesterol = kolesterol naik”.
Baca juga: Bukan Sekadar Warna Cangkang, 5 Rahasia Telur Berkualitas Ternyata Ada pada Kode Kecil Ini!
Penelitian modern menemukan bahwa tubuh tidak selalu merespons kolesterol dari makanan seperti yang dulu diperkirakan. Justru, yang lebih berpengaruh terhadap kenaikan kolesterol jahat (LDL) adalah lemak jenuh, bukan kolesterol dari makanan seperti telur.
Ini berarti, makanan seperti gorengan, santan kental, dan fast food justru memiliki dampak lebih besar dibandingkan telur itu sendiri.
Sebuah studi terbaru menguji pola makan dengan pendekatan yang lebih spesifik. Ada kelompok yang makan telur setiap hari dan ada yang tidak, dengan kombinasi pola makan berbeda. Orang yang makan dua butir telur per hari dalam pola makan rendah lemak jenuh justru memiliki kadar kolesterol jahat yang lebih rendah dibandingkan kelompok lain.
Artinya, telur tidak otomatis membuat kolesterol naik selama pola makan secara keseluruhan tetap terkontrol.
Baca juga: Perhatian! Makan Satu Butir Telur Per Minggu Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Alzheimer
Untuk kebanyakan orang sehat, jawabannya aman, bahkan bisa bermanfaat. Telur mengandung protein tinggi yang membuat kenyang lebih lama, nutrisi penting seperti vitamin dan mineral, serta lemak sehat yang dibutuhkan tubuh.
Kuncinya bukan pada telurnya, melainkan pada pola makan secara keseluruhan.
Banyak orang masih fokus menghindari telur, tetapi tetap sering makan gorengan, mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, atau jarang bergerak. Inilah yang justru lebih berisiko.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Discovermagazine.com