Ilustrasi seseorang mengalami gagal hati akut, dengan gejala perut sakit. (Freepik)
INDOZONE.ID - Gagal hati akut merupakan kondisi serius, ketika fungsi hati menurun secara drastis dalam waktu singkat. Bahkan, bisa turun hanya dalam hitungan hari atau minggu.
Berbeda dengan gagal hati kronis yang berkembang perlahan, kondisi ini umumnya terjadi pada orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit hati.
Penyebab paling umum gagal hati akut adalah, infeksi virus hepatitis dan penggunaan obat tertentu. Terutama overdosis acetaminophen atau paracetamol.
Meski tergolong jarang, kondisi ini merupakan keadaan darurat medis, yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Gagal hati akut dapat memicu komplikasi berat, seperti perdarahan hingga pembengkakan otak akibat peningkatan tekanan di dalam kepala.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini masih bisa dipulihkan dengan pengobatan. Namun, pada situasi tertentu, transplantasi hati menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Baca juga: Mengenal Transplantasi Hati, Penyakit yang Diduga Penyebab Kematian Aktris Michelle Trachtenberg
Dikutip dari Mayo Clinic, gejala gagal hati akut dapat berkembang sangat cepat. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
Pada kondisi berat, pasien juga dapat mengalami perubahan perilaku, gangguan mental, hingga penurunan kesadaran.
Gagal hati akut dapat berkembang dengan sangat cepat, bahkan pada orang yang sebelumnya sehat. Segera cari pertolongan medis apabila muncul gejala seperti:
Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi fatal.
Ilustrasi gagal hati akut. (Freepik)
Gagal hati akut terjadi ketika sel-sel hati mengalami kerusakan berat, sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya. Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan meliputi:
Mengonsumsi acetaminophen dalam dosis terlalu tinggi, merupakan penyebab utama gagal hati akut di banyak negara. Kondisi ini bisa terjadi setelah satu kali overdosis besar atau penggunaan dosis tinggi selama beberapa hari berturut-turut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic