ILUNI FKUI merayakan kebangkitan nasional (Indozone.id/Zahra Utami Putri)
INDOZONE.ID - Setiap tanggal 20 Mei, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum untuk kembali melihat arah perjalanan bangsa.
Tahun ini, ILUNI FKUI ikut memaknainya dengan mengangkat tema besar tentang dunia kedokteran, terutama pentingnya menghadirkan sisi manusiawi dalam pelayanan kesehatan.
Lantas, mengapa tema ini dipilih dan apa pesan besar yang ingin disampaikan? Berikut penjelasannya:
Ketua Umum ILUNI FKUI, menyampaikan bahwa pemilihan tema kesehatan yang lebih manusiawi bukanlah kebetulan. Menurutnya, Hari Kebangkitan Nasional punya hubungan historis yang sangat dekat dengan dunia kedokteran.
Ia mengingatkan bahwa Hari Kebangkitan Nasional lahir dari semangat yang tumbuh di STOVIA atau sekolah kedokteran yang menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, tenaga medis sejak awal bukan hanya hadir sebagai penyembuh, tetapi juga bagian dari gerakan kemanusiaan dan kebangsaan.
“Hari Kebangkitan Nasional lahir dari sebuah sekolah kedokteran, STOVIA, pada 20 Mei 1908. Sejak hari pertama, kebangkitan bangsa ini telah melibatkan kepedulian tenaga medis dan kemanusiaan,” ujar DR Dr Wawan Mulyawan, SpBS(K) sebagai Ketua Iluni FKUI dalam acara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan Peluncuran Buku Dokter Juga Manusia di Jakarta Pusat (20/5/26)
Bagi dia pesan tersebut tetap relevan hingga hari ini sekaligus ingin menyampaikan bahwa di tengah modernisasi sistem kesehatan, mulai dari transformasi layanan hingga penguatan kebijakan nasional, nilai kemanusiaan tetap harus menjadi dasar utama.
ILUNI FKUI menilai bahwa sistem kesehatan yang maju tidak cukup hanya diukur dari fasilitas, teknologi, atau kecepatan layanan.
Lebih dari itu, pelayanan kesehatan juga harus mampu melihat pasien sebagai manusia utuh yang memiliki harapan, kondisi sosial, dan kebutuhan emosional.
Baca juga: Tema Hari Kebangkitan Nasional 2026 Apa? Ini Makna dan Peran Gen Z di Dalamnya!
“Hari ini, 118 tahun kemudian, kita ingin mengembalikan inti itu, bahwa di tengah modernisasi sistem kesehatan kita, manusia harus tetap menjadi pusat dari setiap kebijakan dan setiap pelayanan,” lanjutnya
Pesan ini menjadi penting karena dunia kesehatan sering kali dipandang terlalu teknis.
Padahal, di balik setiap diagnosis dan tindakan medis, ada relasi manusia antara dokter, pasien, keluarga, hingga pembuat kebijakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan