Ilustrasi minuman beralkohol. (Unsplash/@wilstewart3)
INDOZONE.ID - Setelah hari yang melelahkan, tekanan pekerjaan menumpuk, atau pikiran sedang kacau, sebagian orang memilih minum alkohol untuk “menenangkan diri”.
Ada yang menganggap segelas minuman bisa membantu tidur lebih cepat, membuat pikiran lebih santai, atau sekadar menghilangkan stres sementara.
Tidak heran kalau kebiasaan ini sering dianggap normal. Bahkan, banyak orang menjadikan alkohol sebagai bagian dari gaya hidup untuk refreshing atau pelarian saat suasana hati sedang buruk.
Namun di balik efek rileks sesaat itu, ternyata ada dampak lain yang sering tidak disadari: kesehatan mental bisa ikut terganggu.
Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional 2026, ILUNI FKUI Dorong Kesehatan Nasional yang Lebih Manusiawi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkohol yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko depresi dan gangguan emosional lainnya.
Sebaliknya, mengurangi konsumsi alkohol justru dikaitkan dengan kondisi mental yang lebih stabil dan risiko depresi yang lebih rendah.
Banyak orang berpikir alkohol hanya mempengaruhi tubuh. Padahal, efeknya juga bisa menyerang otak dan suasana hati.
Saat mengkonsumsi alkohol, tubuh memang bisa terasa lebih santai untuk sementara waktu. Namun setelah efek itu hilang, kondisi emosional sering kali berubah drastis.
Baca juga: Dinkes Mataram Tegaskan Tak Ada Instruksi Swab Massal Hantavirus
Beberapa orang menjadi lebih sensitif, mudah cemas, overthinking, bahkan merasa lebih sedih dibanding sebelumnya.
Hal ini terjadi karena alkohol dapat mempengaruhi zat kimia di otak yang berhubungan dengan emosi, stres, dan rasa bahagia.
Kalau dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah berlebihan, keseimbangan tersebut bisa terganggu.
Akibatnya, seseorang lebih rentan mengalami perubahan mood, kehilangan motivasi, sulit fokus, hingga mengalami gejala depresi secara perlahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com