Ilustrasi rambut rontok. (Freepik/Doucefleur)
INDOZONE.ID - Kadang tubuh itu punya cara “berbisik” sebelum akhirnya benar-benar berteriak. Dan salah satu sinyal yang sering banget nggak disadari orang adalah: rambut yang tiba-tiba jadi lebih gampang rontok.
Awalnya kelihatan sepele — paling cuma beberapa helai di sisir atau di bantal. Tapi lama-lama, kamu mulai sadar: jumlahnya makin banyak, dan itu terjadi tanpa alasan yang jelas.
Padahal kamu ngerasa nggak ngapa-ngapain yang beda.
Di titik ini, mungkin masalahnya bukan cuma soal rambut — tapi soal kondisi pikiran yang lagi diam-diam kelelahan.
Baca juga: Efek Stres Ternyata Bisa Bikin Badan Pegal Terus!
Begini cara kerja tubuh kita saat stres berkepanjangan: tubuh akan otomatis masuk ke mode bertahan hidup. Fokusnya cuma satu, yaitu menjaga organ vital tetap jalan.
Nah, dalam kondisi ini, hal-hal yang dianggap “bukan prioritas” seperti pertumbuhan rambut akan diturunkan performanya. Akibatnya, banyak folikel rambut yang biasanya tumbuh normal jadi masuk ke fase istirahat secara bersamaan.
Hasilnya?
Rambut yang rontok jadi lebih banyak dari biasanya, bisa terlihat menipis dalam waktu relatif singkat, bahkan bisa rontok saat keramas atau disisir dalam jumlah yang bikin kaget.
Baca juga: Kapan LASIK Bisa Dilakukan? Ini Syarat untuk Calon Pasien
Yang bikin kondisi ini makin parah, stres nggak cuma bekerja dari dalam tubuh — tapi juga dari perilaku kita sehari-hari.
Saat pikiran lagi penuh, tanpa sadar kita bisa memainkan rambut terus-menerus saat cemas, menarik atau memutar rambut tanpa sadar, dan akhirnya jadi lebih malas merawat diri karena energi mental habis.
Kelihatannya sepele, tapi kebiasaan kecil ini bisa memberi tekanan tambahan pada akar rambut dan mempercepat kerontokan.
Ketika mental lagi drop, rutinitas harian juga sering ikut berantakan. Termasuk hal sederhana seperti menyisir rambut atau menjaga kebersihannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com