Ilustrasi nyeri dada tanpa sebab. (freepik)
INDOZONE.ID - Dada sesak, jantung berdebar aneh, napas terasa tertahan, tetapi setelah menjalani medical check-up, hasilnya hanya satu kata: "sehat".
Terasa familiar, bukan? Rasanya ingin protes ke dokter, "Lalu, mengapa masih terasa seperti ini, dok?"
Padahal, jawabannya mungkin bukan berada di ruang periksa, melainkan pada bagian dalam diri kita yang selama ini belum pernah benar-benar kita ajak ‘berdialog’.
Percaya atau tidak, tubuh manusia memiliki cara tersendiri untuk menyimpan luka emosional yang belum sempat terselesaikan. Luka itu tidak benar-benar hilang hanya karena kita berpura-pura baik-baik saja.
Ia hanya berpindah tempat, bersembunyi diam-diam di balik dada dan jantung, dengan sabar menunggu momen yang tepat untuk ‘meledak’ — dan momen itu bisa datang kapan saja, bahkan saat kita paling tidak menyangka.
Baca juga: Sering Sakit Punggung Bawah? Bisa Jadi Amarah yang Selama Ini Kamu Pendam Penyebabnya!
Fenomena nyeri dada tanpa sebab medis yang jelas ternyata bukan hal langka. Berbagai pemeriksaan bisa saja menunjukkan hasil normal — jantung sehat, paru-paru baik, tidak ada penyumbatan — tapi rasa sesak dan nyeri tetap terasa nyata.
Kondisi semacam ini kerap membingungkan, sebab secara medis "tidak ada yang salah", padahal secara fisik jelas ada yang tidak beres.
Ternyata, dunia sains punya penjelasan yang cukup mengejutkan soal ini.
Dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), tim peneliti yang dipimpin Ethan Kross dari University of Michigan menemukan bahwa wilayah otak yang berperan mengolah sensasi nyeri fisik, yaitu secondary somatosensory cortex dan dorsal posterior insula, ternyata juga aktif ketika seseorang mengalami penolakan sosial atau kehilangan hubungan yang berarti.
Baca juga: 7 Manfaat Luar Biasa Ikan Toman untuk Kesehatan Tubuh
Dengan kata lain, luka hati dan luka fisik ternyata 'berbagi jalur' yang sama di dalam otak kita — bukan cuma kiasan belaka.
Temuan ini bukan berdiri sendiri. Sejak penelitian rintisan oleh Naomi Eisenberger dan koleganya yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2003, ilmuwan sudah menemukan bahwa area otak bernama dorsal anterior cingulate cortex dan anterior insula menunjukkan peningkatan aktivitas, baik saat seseorang mengalami nyeri fisik maupun nyeri emosional seperti penolakan atau kehilangan.
Artinya, ketika emosi seperti kesedihan, kekecewaan, atau rasa kehilangan tidak diberi ruang untuk diproses, otak memang benar-benar memprosesnya mirip seperti sedang mengalami cedera fisik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber