Apa iya, Bersepeda Dapat Pulihkan Koneksi Saraf yang Rusak Akibat Parkinson? Ini Penjelasan Ahli
INDOZONE.ID - Berdasarkan analisis dari Parkinson’s Foundation, diperkirakan ada 10 juta orang di seluruh dunia hidup dengan penyakit Parkinson. Itu merupakan suatu kondisi neurologis, yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak.
Penyakit Parkinson memiliki dampak negatif terhadap sistem saraf pusat, termasuk otak.
“Otak adalah sistem yang dinamis dan terus berkembang, dan penyakit Parkinson mengganggu sistem ini dengan cara yang kompleks dan selalu berubah,” jelas profesor sekaligus wakil ketua bidang riset, Aasef Shaikh, dikutip Medical News Today.
Shaikh yang memimpin sebuah studi terbaru dan dipublikasikan di Clinical Neurophysiology menemukan, bersepeda dapat membantu memulihkan koneksi saraf yang rusak akibat Parkinson.
Baca juga: Awas! Tinggal Dekat Lapangan Golf Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Parkinson hingga Tiga Kali Lipat
Bersepeda dan Stimulasi Otak Dalam
Dalam penelitian tersebut, sembilan partisipan dewasa dengan Parkinson menjalani 12 sesi bersepeda selama empat minggu. Seluruh peserta telah memiliki implan perangkat deep brain stimulation (DBS) sebelum penelitian dimulai.
“Studi ini memanfaatkan DBS untuk merekam aktivitas saraf di area otak sekitar elektroda stimulasi,” kata Shaikh.
“Dengan kemampuan ini, peneliti mempelajari bagaimana olahraga dapat memengaruhi dan bahkan membentuk ulang fungsi otak,” sambungnya.
Program bersepeda yang digunakan bersifat adaptif. Sepeda dilengkapi sistem yang mempelajari performa pesepeda, dan menambah atau mengurangi resistansi sesuai usaha yang dikeluarkan.
Perubahan Nyata Setelah 12 Sesi
Hasilnya, setelah 12 sesi bersepeda, peserta menunjukkan perubahan signifikan pada sinyal otak yang terlibat dalam kontrol motorik dan gerakan.
“Ini adalah bukti bahwa olahraga mengubah otak. Perubahan hanya terjadi jika olahraga dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dalam jangka waktu lama,” ujar Shaikh.
Ia menambahkan, perubahan tersebut kemungkinan dipicu sistem proprioseptif dan/atau otak kecil (cerebellum), bukan hanya oleh basal gangli—struktur utama yang terlibat dalam Parkinson.
Shaikh berharap, penelitian ini dapat diperluas dengan pencitraan otak yang lebih detail, serta uji multi-senter untuk menguji manfaat jenis olahraga lain.
Bukti Ilmiah Penting untuk Pasien
Sementara itu, Kepala Rehabilitasi Cedera Otak di Mass General Brigham, dan profesor di Harvard Medical School, Daniel H. Daneshvar, menyebutkan, penelitian ini sebagai langkah kreatif yang memberikan jawaban penting.
“Ada banyak bukti bahwa olahraga adalah intervensi terbaik bagi pasien Parkinson. Jika ada pil yang efeknya sama seperti olahraga untuk Parkinson, itu akan menjadi pil bernilai miliaran dolar,” kata Daneshvar.
“Namun, kita belum sepenuhnya memahami bagaimana olahraga memengaruhi otak,” lanjutnya.
Menurutnya, penelitian ini memberi bukti, olahraga dapat mengaktifkan kembali bagian otak yang terdampak Parkinson, dan memberikan alasan kuat bagi dokter untuk mendorong pasien tetap aktif secara fisik.
Baca juga: Hati-hati! Sering Mimpi Buruk saat Kecil Berisiko Kena Penyakit Parkinson
Efek Jangka Panjang
Direktur Program Gangguan Gerak di Baptist Health Miami Neuroscience Institute, Samer Tabbal, menambahkan, manfaat motorik olahraga bagi penderita Parkinson sudah terbukti dalam banyak penelitian sebelumnya.
“Penelitian ini mencoba menjelaskan mekanismenya dengan menunjukkan bahwa olahraga dapat mengubah perilaku sel otak, bahkan di otak yang sudah rusak. Kemampuan otak membentuk koneksi baru ini disebut neuroplasticity,” ujar Tabbal.
Menariknya, ia mengatakan, manfaat bersepeda dinamis tidak muncul secara instan, namun berdampak jelas dalam jangka panjang.
“Pasien sebaiknya berolahraga dengan harapan manfaat jangka panjang, tanpa menuntut hasil instan,” katanya.
Tabbal mengatakan, semakin kita tahu tentang bagaimana olahraga dapat meningkatkan fungsi otak, semakin baik pula kita dapat menggunakan olahraga secara efektif untuk memperbaiki gejala pasien.
Sehingga ke depannya, pemahaman tersebut bisa memicu pengembangan metode lain seperti obat, stimulasi listrik, stimulasi magnet, musik, atau terapi cahaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today