INDOZONE.ID - Anak kamu sering jatuh sakit, dan kerap membawa pulang penyakit dari sekolah atau tempat penitipan anak?
Kondisi itu wajar terjadi pada anak di bawah usia tujuh tahun. Sebab, sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya matang, dan masih dalam proses belajar melawan berbagai infeksi umum.
Seiring bertambahnya aktivitas anak di luar rumah, seperti masuk prasekolah atau bermain di lingkungan terbuka, mereka akan lebih banyak terpapar berbagai kuman.
Penyakit yang paling sering muncul di antaranya batuk pilek, flu, hingga gangguan pencernaan.
Kabar baiknya, sering sakit justru bisa menjadi tanda, sistem imun anak sedang berkembang. Tubuh mereka sedang berusaha mengenal beragam mikroba baru, sekaligus membangun pertahanan terhadap virus maupun bakteri.
Namun, daya tahan tubuh anak dipengaruhi banyak faktor, seperti pola makan seimbang, aktivitas fisik, kualitas tidur, kebersihan, hingga manajemen stres.
Baca juga: Benarkah Mandi Hujan Bikin Anak Sakit, Begini Penjelasan Ahli
Lingkungan yang kurang higienis, padat penduduk, serta keterbatasan akses layanan kesehatan, dapat semakin melemahkan imunitas anak, membuat mereka lebih rentan terkena penyakit.
Untuk itu, Dokter Spesialis Anak, Nihar Parekh, memberikan tiga strategi utama yang bisa diterapkan orang tua agar kesehatan buah hati tetap terjaga.
1. Periksa Jadwal Imunisasi
Dr. Parekh menekankan, pentingnya memastikan jadwal imunisasi anak sesuai anjuran. Vaksinasi melatih sistem kekebalan dengan memasukkan patogen yang dilemahkan atau tidak aktif, sehingga tubuh dapat membentuk antibodi serta memori imun terhadap penyakit tertentu.
Ketepatan waktu sangat krusial. Jika ada dosis penguat (booster) yang terlewat, maka vaksinasi sebelumnya bisa dianggap tidak efektif. Karena itu, orang tua perlu rutin memeriksa kartu imunisasi anak agar tidak ada jadwal yang terlewat.
2. Perhatikan Asupan Vitamin D
Vitamin D dijuluki sebagai ‘vitamin ajaib’ karena manfaatnya yang besar dalam mendukung daya tahan tubuh. Selain berperan penting dalam pembentukan tulang kuat serta mencegah penyakit rakhitis, vitamin D juga terbukti membantu respons imun dan menurunkan risiko gangguan mental seperti depresi.
Akan tetapi, asupan vitamin D dari makanan dan paparan sinar matahari sering kali tidak mencukupi. Sehingga, suplementasi vitamin D dianjurkan sesuai kebutuhan anak.
Rekomendasi umum, bayi membutuhkan sekitar 400 IU per hari, sedangkan anak-anak dan remaja sekitar 600 IU per hari. Namun, dosis ideal sebaiknya dikonsultasikan langsung dengan dokter anak.
3. Konsultasikan Imunobooster dan Obat Pencegahan
Langkah lain yang bisa ditempuh adalah membicarakan dengan dokter anak mengenai imunobooster atau obat pencegahan yang sesuai.
Beberapa bahan alami dapat mendukung imunitas, seperti vitamin C, vitamin D, dan zinc dari buah serta sayuran, probiotik dari yoghurt, hingga lemak sehat dari alpukat, ikan berlemak, dan kacang-kacangan.
Selain itu, suplemen tambahan juga tersedia di pasaran. Namun, penggunaannya harus berdasarkan rekomendasi dokter agar aman dan tepat sasaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Hindustan Times