INDOZONE.ID - Obesitas sering dianggap cuma soal penampilan gemuk, cabi atau “menggemaskan”. Padahal menurut dokter spesialis gizi, kondisi ini jauh lebih serius. Di Asia, seseorang dengan indeks massa tubuh(IMT) 25 saja sudah bisa masuk kategori obesitas, meski tubuhnya tidak terlihat terlalu besar.
Ketua Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Anti Penuaan, Wellness, Estetik & Regeneratif
Indonesia (PERDAWERI) bidang Keilmuan Anti Aging, Wellness, Estetik, dan Regeneratif (AWER), dr. Maya Surjadjaja menjelaskan bahwa standar obesitas di Asia lebih rendah dibandingkan Barat.
“Kalau di Barat IMT ≥30 baru disebut obesitas, di Asia angka 25 saja sudah termasuk obesitas,” jelasnya kepada awak media, Minggu (24/8/2025).
Contoh mudahnya, orang dengan tinggi badan 155 cm sudah bisa masuk kategori obesitas hanya dengan berat 56–58 kg. Ini terjadi karena orang Asia lebih cepat terkena penyakit meski lemak tubuh tidak terlalu banyak.
Risiko Kesehatan Serius
Obesitas bukan cuma soal berat badan berlebih. Kondisi ini berkaitan dengan risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes, gangguan hormon, bahkan beberapa jenis kanker.
Tak hanya itu, obesitas juga mempercepat penuaan.
“Obesitas membuat telomere di ujung kromosom cepat habis, sehingga sel lebih cepat menua,” kata dr. Maya.
Baca juga: Obesitas Jadi Masalah Serius ASN Jakarta, 15 Persen Alami Gangguan Mental
Lingkar Pinggang Jadi Alarm
Selain IMT, lingkar pinggang juga bisa jadi indikator obesitas. dr. Mata ungkap, maksimal 80 cm untuk perempuan dan maksimal 90 cm untuk laki-laki.
Jika melewati batas ini, risiko penyakit metabolik meningkat tajam.
Waspada Obat dan Herbal Pelangsing
Banyak orang tergoda obat diet atau herbal pelangsing, terutama yang viral di media sosial. Namun, dr. Maya mengingatkan agar hati-hati.
“Seringkali produk herbal dicampur zat berbahaya tanpa diketahui. Obat medis baru boleh digunakan pada IMT lebih 30, atau lebih 27 jika ada penyakit penyerta,” jelasnya.
Cara Sehat Mengatasi Obesitas
Penanganan obesitas tetap bertumpu pada pola hidup sehat. Dr. Maya menyarankan lima hal kunci:
- Makan teratur dan seimbang.
- Tidur cukup.
- Rutin olahraga.
- Kelola stres.
- Jaga kesehatan usus (gut health) karena memengaruhi metabolisme, otak, dan kulit.
Intinya bukan sekadar menurunkan berat badan cepat, tapi menjaga keseimbangan tubuh jangka panjang.
dr. Riyanny Meisha Tarliman, Clinical, Medical, and Regulatory Director Novo Nordisk Indonesia, menambahkan obesitas bukan sekadar masalah penampilan ataupun gaya hidup.
"Ini adalah kondisi medis kompleks yang memengaruhi kesehatan metabolik dan dapat mempercepat tanda penuaan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan holistik—menggabungkan gaya hidup sehat, penilaian klinis, dan terapi berbasis bukti, menjadi cara paling aman untuk menangani obesitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung