INDOZONE.ID - Langkah strategis memperkuat keamanan pangan nasional kembali diwujudkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Melalui Direktorat Penyedia dan Penyaluran Wilayah II, lembaga ini menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penjamah Pangan termasuk SPPG.
Sertifikasi ini nyatanya bukan sekadar pelatihan biasa. Bimtek tersebut menjadi bagian dari gerakan serentak di 12 kabupaten dan kota, yang melibatkan 10.000 peserta dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ahli gizi, akuntan, hingga relawan pelayanan gizi masyarakat.
Baca juga: Begini Pertolongan Pertama Agar Cepat Pulih Bila Terjadi Keracunan MBG
Gerakan Serentak di 12 Wilayah
Pelaksanaan Bimtek Penjamah Pangan dilakukan bersamaan di Kabupaten Bandung Barat, Garut, Banyumas, Purworejo, Bojonegoro, Ngawi, Pandeglang, Serang, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Kulon Progo, dan Sleman.
Masing-masing lokasi dibuka oleh Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) daerah setempat, yang menekankan pentingnya sinergi lintas profesi demi terciptanya sistem pangan yang aman dan berkualitas.
Kegiatan berlangsung dalam format tatap muka langsung dengan pendampingan teknis dan pemantauan virtual dari tim pusat BGN. Setiap SPPG yang ikut sertifikasi wajib memahami standar yang berlaku di lapangan.
Baca juga: Bikin Netizen Terenyuh, Siswa SD Inpres Parepare Simpan MBG untuk Ibunya
Bangun Kompetensi, Jaga Keamanan Pangan
Direktur Penyedia dan Penyaluran Wilayah II BGN, Dr. Nurjaeni, Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan sistem pangan nasional berawal dari tenaga pelaksananya. Keamanan pangan dimulai dari tangan-tangan penjamah yang kompeten.
“Kami memastikan seluruh pelaksana SPPG memahami prinsip higienitas, sanitasi, serta pengendalian risiko pangan di setiap tahap pelayanan,” ujar Dr. Nurjaeni kepada wartawan.
Mereka semua mengenal prinsip dasar keamanan pangan dan higienitas dapur, pencegahan kontaminasi silang, prosedur sanitasi lingkungan kerja, hingga penanganan dan distribusi bahan pangan yang aman.
Tak hanya teori, mereka juga dilatih melakukan simulasi dan praktik langsung untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan menerapkan langkah pencegahan. Seluruh kegiatan terintegrasi melalui Learning Management System (LMS) Penjamah Pangan.
Sertifikasi dan Dampak Jangka Panjang
Setelah menyelesaikan pelatihan, seluruh peserta memperoleh sertifikat kompetensi Penjamah Pangan dari BGN, pengakuan resmi atas kemampuan mereka menjaga mutu dan keamanan pangan di unit kerja masing-masing.
Program ini diharapkan menjadi pondasi budaya kerja higienis dan aman, sekaligus menekan potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat keracunan pangan di masyarakat.
“Dengan tersertifikasinya 10.000 penjamah pangan dari unsur SPPG di 12 kabupaten/kota, kita memperkuat sistem pelayanan gizi yang tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan terpercaya bagi masyarakat,” tegas Dr. Nurjaeni.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara