INDOZONE.ID - Semakin banyak orang yang beralih ke vape alias rokok elektrik karena dinilai lebih nyaman dan klaimnya minim risiko. Padahal kebiasaan nge-vape bisa berisiko buruk untuk kesehatan paru bahkan lebih rentan memicu tanda awal kanker paru.
Dr. Lim Hong Liang, Senior Consultant in Medical Oncology di Parkway Cancer Centre (PCC)menjelaskan, kanker paru berkembang ketika sel-sel abnormal tumbuh di jaringan paru tanpa kendali. Bahkan bisa menyebar ke organ lain seperti otak, tulang, dan hati. Kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal.
“Batuk berkepanjangan, sesak napas, atau nyeri dada sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal kanker paru,” katanya saat wawancara via online.
Baca juga: Jepang Berhasil Terapkan Pengobatan Kanker Paru Tanpa Operasi Besar
Penyebab Kanker Paru
Selain faktor genetik, kebiasaan merokok masih menjadipenyebab utama kanker paru, termasuk paparan polusi udara, asap rokok pasif, hingga zat kimia industri. Belakangan, trenbaru seperti vaping atau rokok elektrik juga menimbulkan kekhawatiran.
Ditambahkan Senior Consultant in Medical Oncology di PCC Dr. Chin Tan Min, vaping bukanlah alternatif yang aman terhadap rokok konvensional. Vape tetap mengandung nikotin dan bahan kimia toksik yang dapat merusak paru dan menyebabkan kecanduan.
“Meski belum terbukti langsung menyebabkan kanker paru, risikonya terhadap kesehatan paru tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Dr. Chin menyarankan agar masyarakat yang ingin berhentimerokok atau vaping melakukannya dengan bimbinganmedis. Program berhenti merokok yang terstruktur dan gayahidup sehat terbukti lebih efektif dalam menurunkan risikokanker paru.
Pentingnya Deteksi Dini
Dia menekankan pentingnya deteksi dini melalui CT scan dosis rendah, yang terbukti mampu mendeteksi kanker parusebelum muncul gejala klinis. Karena deteksi dini meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
“Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar kemungkinan untuk diobati dengan efektif,” tambahnya.
Evolusi Pengobatan Kanker Paru
Selama bertahun-tahun, kemoterapi menjadi pengobatan utama bagi pasien kanker paru. Namun efektivitasnya terbatas dan efek sampingnya sering kali berat. Kini, pendekatan baru seperti targeted therapy dan immunotherapy telah mengubah paradigma pengobatan.
Menurut Dr. Lim, penemuan mutasi genetik pada sel kanker paru merupakan titik balik penting dalam terapi modern. Penemuan mutasi gen seperti EGFR memungkinkan kami merancang terapi yang lebih tepat sasaran.
“Dengan targeted therapy, kami dapat menonaktifkan mekanisme gen yang memicu pertumbuhan kanker tanpa merusak jaringan sehat,” jelasnya.
Baca juga: Penanganan Kanker Paru di Indonesia Sudah Lengkap, Ada Alat CT Scan Low Dose
Immunotherapy: Mengaktifkan Sistem Imun untuk Melawan Kanker
Selain terapi bertarget, immunotherapy menjadi terobosan besar berikutnya dalam pengobatan kanker paru. Terapi ini bekerja dengan mengaktifkan sistem imun tubuh agar dapat mengenali dan menghancurkan sel kanker secara alami.“Efeknya bisa bertahan lama seperti vaksinasi terhadap kanker ,” kata Dr. Lim.
Dalam beberapa kasus, immunotherapy dapat memberikan kontrol jangka panjang dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup hingga lima tahun bagi sebagian pasien.
Studi menunjukkan bahwa pasien kanker paru stadium lanjutyang menjalani immunotherapy memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 23%, dibandingkan kurang dari 5% pada terapi konvensional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara