Senin, 24 NOVEMBER 2025 • 11:12 WIB

Kebiasaan Gertak Gigi Bisa Bahayakan Rahang, Ini Faktanya

Author

Ilustrasi pasien sedang menjalani perawatan scaling gigi di klinik. (Freepik)

INDOZONE.ID - Stres dan tekanan hidup dapat memberikan efek tak terduga pada kesehatan tubuh, termasuk pada gigi dan mulut. Salah satu tanda stres yang sering diabaikan adalah bruxism. Sebenarnya, apa itu bruxism?

Menurut penelitian Hartono dkk. (2011) berjudul Bruksisma (Bruxism), bruxism adalah keadaan seseorang mengasah atau menggertakkan gigi (grinding) atau mengatupkan rahang atas dan bawah dengan kuat (clenching). Kebiasaan ini biasanya terjadi tanpa disadari, berulang, atau tidak beraturan.

Baca juga: Menguap Terlalu Lebar, Wanita Ini Mengalami Dislokasi Rahang, Apa Itu?

Menurut Alodokter.com, bruxism dapat terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bruxism dapat muncul saat seseorang terjaga maupun tertidur, namun bruxism saat tidur atau sleep bruxism lebih sering terjadi. Halodoc.com menjelaskan bahwa penderita bruxism umumnya merasa lelah di pagi hari karena gangguan tidur, serta mengalami wajah pegal dan sakit kepala saat bangun tidur.

Dalam penelitian Hartono dkk. (2011) juga disebutkan bahwa ada beberapa faktor penyebab bruxism, antara lain faktor genetik; pola hidup seperti merokok, konsumsi kafein dan alkohol; serta faktor psikososial seperti stres dan kecemasan. Namun, faktor psikososial, terutama stres dan kecemasan merupakan penyebab paling berpengaruh. Faktor lain yang memicu bruxism adalah ketegangan terhadap suatu kondisi, rasa marah, dan depresi.

Ilustrasi Sakit Gigi (Photo/istock/AndreyPopov)

Jika bruxism dibiarkan berlanjut, dampaknya dapat semakin besar, seperti kerusakan gigi, sakit kepala, dan nyeri pada sendi rahang. Bahkan, komplikasi serius dapat muncul, seperti insomnia, infeksi atau abses gigi, nyeri jangka panjang pada wajah dan telinga, hingga peradangan sendi rahang.

Menurut Halodoc.com dan Alodokter.com, beberapa langkah pencegahan serta pengobatan yang dapat dilakukan secara mandiri antara lain:

  • Menghindari konsumsi alkohol, merokok, obat-obatan terlarang, dan kafein.
  • Mengelola stres dengan baik, termasuk melakukan terapi relaksasi seperti meditasi dan yoga.
  • Menghindari kebiasaan menggigit pensil atau pulpen.
  • Mengurangi kebiasaan mengunyah permen karet.
  • Menjepit ujung lidah di antara gigi atas dan bawah saat menyadari sedang menggertakkan gigi.
  • Menjaga waktu tidur yang cukup dan teratur.
  • Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi.

Penting untuk diingat bahwa bruxism bukan masalah sepele. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada kesehatan gigi dan rahang. Banyak penderita bruxism bahkan tidak menyadari kebiasaan tersebut karena sering terjadi saat tidur malam.

Baca juga: Mewing, Teknik Viral yang Diklaim Mampu Memperbaiki Struktur Wajah dan Garis Rahang

Jika seseorang merasa stres atau mengalami gejala bruxism, segera konsultasikan dengan dokter gigi untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Dalam kehidupan penuh tekanan, kita perlu menjaga kesehatan gigi dan mulut, bukan hanya kesehatan tubuh secara umum. Dengan mengenali dan mengatasi bruxism sejak dini, kita dapat memastikan gigi tetap sehat serta terhindar dari masalah yang muncul akibat stres berlebih.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Halodoc, Alodokter

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU