INDOZONE.ID - Apakah mengonsumsi cokelat hitam dalam jumlah banyak, dapat membantu memperlambat penuaan biologis?
Pertanyaan ini mulai mendapat perhatian setelah sebuah studi terbaru mengungkapkan, potensi senyawa bernama theobromine, yang banyak ditemukan dalam kakao dan cokelat hitam.
Theobromine secara kimia mirip dengan kafein, tetapi memiliki efek stimulan yang jauh lebih ringan. Senyawa ini ditemukan dalam kakao dan, dalam jumlah lebih kecil, pada kopi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aging menemukan, individu dengan kadar theobromine tertinggi dalam darah, menunjukkan penanda epigenetik yang berkaitan dengan penuaan biologis yang lebih lambat.
Apa Itu Theobromine?
Dikutip dari Medical News Today, theobromine adalah senyawa fitokimia bioaktif yang berasal dari tanaman, dan mampu memengaruhi fisiologi manusia.
Sumber utama theobromine dalam pola makan manusia adalah, cokelat, khususnya cokelat hitam, dan kopi.
Dalam biji kakao, theobromine menyusun sekitar 3,3 persen dari berat totalnya. Meski mirip secara struktur dengan kafein, para ahli menilai, theobromine sebagai stimulan sistem saraf pusat yang lebih ‘lembut’.
Baca juga: Rahasia Sehat dari Cokelat dan Teh: Flavonoid Pelindung Jantung
Salah satunya, karena senyawa ini tidak mudah menembus sawar darah-otak seperti kafein.
Dalam dosis tinggi, theobromine dapat bersifat toksik bagi manusia. Namun, kadar yang dikonsumsi melalui makanan sehari-hari umumnya aman.
Berbeda dengan manusia, kucing dan anjing memetabolisme theobromine jauh lebih lambat, sehingga cokelat bisa berbahaya bagi hewan peliharaan tersebut.
Memahami Penuaan Biologis
Penuaan kronologis, merujuk pada usia berdasarkan waktu sejak seseorang lahir. Sementara itu, penuaan biologis menggambarkan kondisi fisiologis sel, jaringan, dan organ tubuh.
Seseorang bisa saja berusia 80 tahun secara kronologis, tetapi memiliki usia biologis lebih muda, jika menjalani gaya hidup sehat, bebas penyakit serius, dan aktif secara fisik.
Sebaliknya, gaya hidup tidak sehat dapat membuat usia biologis lebih tua dibanding usia sebenarnya.
Untuk mengukurnya, ilmuwan menggunakan berbagai indikator, termasuk penanda epigenetik dan panjang telomer. Dua metode itu juga digunakan dalam penelitian ini.
Peran Epigenetik dalam Proses Penuaan
Epigenetik menjelaskan, bagaimana gen dapat ‘diaktifkan’ atau ‘dinonaktifkan’ tanpa mengubah struktur DNA itu sendiri.
Dokter endokrinologi dan genetika dari University of British Columbia, Dr. Fady Hannah-Shmouni, menjelaskan, DNA ibarat perangkat keras, sedangkan epigenetik adalah perangkat lunaknya.
Perubahan epigenetik memengaruhi bagaimana sel membaca, dan menggunakan informasi genetik tersebut.
Salah satu mekanisme epigenetik utama adalah metilasi DNA, yakni penempelan gugus kimia kecil pada DNA, yang dapat menurunkan atau menghentikan aktivitas gen.
Peneliti menyebutkan, gangguan regulasi epigenetik sebagai salah satu ciri utama penuaan.
Dalam studi ini, ilmuwan menggunakan metode GrimAge, sebuah ‘jam epigenetik’ canggih yang tidak hanya memprediksi usia biologis, tetapi juga risiko penyakit, kematian, dan laju penuaan.
Hasil Studi: Theobromine dan Penuaan Lebih Lambat
Penelitian ini melibatkan 1.669 peserta, termasuk 509 pasangan kembar. Sampel darah peserta dianalisis untuk mengukur kadar theobromine dan senyawa bioaktif lain, dari cokelat dan kopi.
Hasilnya menunjukkan, peserta dengan kadar theobromine tertinggi memiliki penuaan epigenetik yang lebih lambat, dibanding mereka yang kadarnya paling rendah.
Pola serupa juga terlihat pada panjang telomer, meski hubungannya lebih lemah.
Menariknya, senyawa bioaktif lain dari cokelat dan kopi tidak menunjukkan kaitan yang sama dengan penuaan biologis. Hal ini memperkuat dugaan bahwa theobromine berperan penting dalam efek tersebut.
Studi ini menjadi yang pertama pada manusia yang menemukan hubungan serupa, setelah sebelumnya efek perpanjangan usia hanya diamati pada hewan percobaan seperti cacing.
Masih Perlu Penelitian Lanjutan
Meski hasilnya menjanjikan, para ahli menekankan bahwa temuan ini belum bersifat final. Cokelat dan kopi mengandung banyak senyawa lain, seperti flavan-3-ol, sejenis polifenol yang dikenal bermanfaat bagi kesehatan jantung dan metabolisme.
Ada kemungkinan bahwa manfaat yang diamati bukan semata-mata berasal dari theobromine. Selain itu, kemungkinan sebab-akibat terbalik juga perlu dipertimbangkan, orang dengan penuaan biologis lebih lambat mungkin memetabolisme theobromine secara berbeda.
Dr. Hannah-Shmouni menyebutkan, temuan ini menarik dan layak ditindaklanjuti melalui uji klinis terkontrol, studi jangka panjang, serta pengukuran senyawa bioaktif lain dalam cokelat.
Apakah Cokelat Sehat?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Banyak produk cokelat di pasaran mengandung gula tambahan, dan bahan olahan berlebihan.
Namun, cokelat hitam dengan kandungan kakao minimal 70 persen dan bahan sederhana dinilai lebih sehat.
Ahli gizi kesehatan masyarakat dari Imperial College London, Dr. Federica Amati, menjelaskan, cokelat hitam kaya akan polifenol, antioksidan, serta mineral penting. Seperti, zat besi, magnesium, tembaga, dan mangan.
Oleh karena itu, Theobromine berpotensi mendukung penuaan biologis yang lebih lambat, meski bukti ilmiahnya masih terus dikembangkan.
Yang jelas, cokelat, khususnya cokelat hitam berkualitas, tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat jika dikonsumsi secara bijak.
Dengan kata lain, menikmati cokelat hitam bukan hanya soal rasa, tetapi juga bisa menjadi investasi kecil bagi kesehatan jangka panjang—selama pilihan dan porsinya tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today