Minggu, 18 JANUARI 2026 • 09:15 WIB

Hipertensi, Si ‘Silent Killer’ yang Sering Diremehkan Anak Muda

Author

Ilustrasi pemeriksaan tekanan darah tinggi atau hipertensi (health.harvard.edu)

INDOZONE.ID - Tekanan darah tinggi atau hipertensi, kerap dijuluki sebagai silent killer. Sebab, penyakit ini sering berkembang tanpa gejala yang jelas. 

Banyak orang hidup dengan tekanan darah di atas normal tanpa menyadarinya. Sementara kondisi tersebut, perlahan merusak pembuluh darah, jantung, ginjal, hingga otak.

Padahal, mengenali tanda-tanda awal hipertensi, meski tampak ringan, dapat menjadi langkah penting yang menyelamatkan nyawa. 

Deteksi dan penanganan dini terbukti mampu menurunkan risiko komplikasi serius, seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga gangguan kognitif akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.

Gejala Fisik Tekanan Darah Tinggi yang Sering Diabaikan

Dikutip dari Medical Daily, sebagian besar penderita hipertensi, tidak merasakan keluhan apa pun. Namun, pada beberapa orang, tubuh dapat memberi sinyal-sinyal halus yang kerap dianggap sebagai kelelahan, stres, atau proses penuaan.

Baca juga: Minum Obat Rutin Tapi Tekanan Darah Gak Turun? Hati-hati, Itu Bisa Jadi Hipertensi Resisten

1. Sakit kepala di pagi hari

Sakit kepala yang muncul berulang pada pagi hari, terutama di bagian belakang kepala, termasuk gejala hipertensi yang sering luput dari perhatian. 

Menurut American Heart Association (AHA), tekanan darah yang meningkat saat malam hari, dapat memicu peningkatan tekanan di dalam tengkorak. Sehingga, menyebabkan sakit kepala saat bangun tidur.

Ilustrasi hipertensi (Pixabay/Steve Buissinne)

2. Sering pusing atau terasa melayang

Rasa pusing, terutama ketika berdiri secara tiba-tiba, bisa menandakan gangguan aliran darah ke otak. Meski pusing dapat disebabkan banyak faktor, kondisi ini juga dapat berkaitan dengan fluktuasi tekanan darah yang tidak terkontrol.

3. Mimisan dan sesak napas

Mimisan memang bukan gejala khas hipertensi, tapi dapat terjadi pada kasus tekanan darah tinggi yang berat atau tidak terkelola dengan baik.

Sementara itu, sesak napas saat melakukan aktivitas ringan seperti, menaiki tangga atau berjalan cepat, bisa muncul ketika hipertensi mulai melemahkan fungsi jantung atau menyempitkan pembuluh darah.

4. Rasa tertekan atau tidak nyaman di dada

Sebagian orang merasakan tekanan ringan di dada saat beraktivitas atau mengalami stres. Kondisi ini dapat mencerminkan beban kerja jantung yang meningkat akibat tekanan darah tinggi. 

Studi dari National Heart, Lung, and Blood Institute menunjukkan, hipertensi jangka panjang dapat melemahkan otot jantung, dan meningkatkan risiko gagal jantung.

Gejala-gejala tersebut memang tidak serta-merta memastikan seseorang menderita hipertensi, namun patut diwaspadai, terutama pada individu dengan riwayat keluarga tekanan darah tinggi.

Baca juga: Kapan Penderita Hipertensi Bisa Berhenti Meminum Obat?

Tanda Hipertensi yang Berkaitan dengan Gaya Hidup

Selain keluhan fisik, hipertensi juga dapat memunculkan perubahan yang berkaitan dengan fungsi organ dan aktivitas sehari-hari.

1. Penglihatan kabur atau ganda

Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di retina mata. Akibatnya, penglihatan bisa menjadi kabur, sulit fokus, atau bahkan ganda. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat, hipertensi yang tidak ditangani dapat menyebabkan retinopati dan gangguan penglihatan jangka panjang.

Ilustrasi dokter yang sedang mengecek kadar gula darah pasien, untuk deteksi hipertensi. (Freepik)

2. Sensasi berdebar di dada, leher, atau telinga

Beberapa orang merasakan denyut jantung di telinga atau sensasi berdebar di dada. Hal ini dapat terjadi saat tekanan darah meningkat, dan darah mengalir dengan tekanan lebih kuat ke dinding pembuluh darah.

3. Mudah lelah dan sulit berkonsentrasi

Hipertensi dapat mengganggu suplai oksigen ke otak. Akibatnya, muncul keluhan seperti kelelahan berlebihan, kebingungan, atau sulit berkonsentrasi. 

Banyak orang menganggap kondisi ini sebagai dampak stres atau kurang tidur. Padahal, bisa menjadi tanda tekanan darah yang memburuk.

4. Detak jantung tidak teratur atau telinga berdenging

Detak jantung yang terasa tidak teratur, serta telinga berdenging (tinnitus) juga dapat muncul seiring kerusakan pembuluh darah akibat hipertensi. 

Meski memiliki banyak kemungkinan penyebab, tekanan darah tinggi kerap menjadi faktor yang mendasarinya.

Langkah Pencegahan untuk Turunkan Risiko Hipertensi

Mengenali gejala dini memang penting. Namun, pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menghindari bahaya hipertensi.

Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain:

  • Menerapkan pola makan sehat untuk jantung, dengan memperbanyak konsumsi biji-bijian utuh, buah, sayuran, dan protein rendah lemak, serta membatasi asupan garam.
  • Berolahraga secara rutin, minimal 30 menit aktivitas fisik intensitas sedang, seperti jalan cepat, hampir setiap hari.
  • Mengelola stres, melalui teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, yoga, atau aktivitas luar ruangan.
  • Menghindari rokok dan membatasi konsumsi alkohol, karena nikotin dan alkohol berlebih dapat mempercepat peningkatan tekanan darah.
  • Memantau tekanan darah secara berkala, meskipun tidak ada keluhan. Pengukuran rutin membantu mendeteksi perubahan sejak dini sebelum kerusakan organ terjadi.

Hipertensi mungkin datang tanpa suara, tetapi dampaknya dapat sangat serius. Kesadaran terhadap gejala halus dan komitmen menjalani gaya hidup sehat, menjadi kunci utama untuk mencegah penyakit ‘silent killer’ ini merenggut kualitas hidup.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU