Kamis, 05 MARET 2026 • 14:20 WIB

Intervensi Gizi Sejak Dini Dinilai Efektif Mencegah Stunting

Author

Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan. (Dok. Pribadi)

INDOZONE.ID - Rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 telah dituntaskan melalui kemitraan strategis lintas sektor. Pelaksanaan program ini mengonsolidasikan peran Kemendukbangga, TP PKK Kabupaten Batang, akademisi pangan Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers guna memastikan pendampingan gizi berjalan secara komprehensif di masyarakat.

Momentum ini kembali menegaskan pentingnya intervensi gizi anak usia dini yang konsisten, terpantau, dan berbasis kolaborasi dalam mendukung pencegahan stunting di Indonesia.

Dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan. 

Baca juga: Sering Salah, Ini Cara Menyimpan Makanan yang Benar Menurut Ahli Biar Gizi Tidak Rusak

Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi, program menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5%, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.

⁠Plt. Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Dr. Yuni Hastutiningsih, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan faktor kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting.

"Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program. Oleh karena itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia," ujarnya di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Selain mendorong pertumbuhan anak, program ini memperkuat peran keluarga dan kader dalam memantau tumbuh kembang serta variasi konsumsi harian. 

Pendampingan yang berkelanjutan memastikan bahwa edukasi gizi ini menetap menjadi pola hidup sehat di rumah tangga, bukan sekadar pemberian asupan sesaat. 

Langkah ini menjadi bagian dari strategi menyeluruh untuk menekan risiko masalah gizi pada anak secara permanen.

Ankur Mittal selaku Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya tercermin dari capaian angka, tetapi dari perubahan perilaku yang berkelanjutan.

"Bagi kami, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas," kata Ankur Mittal.

"Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, kami melihat perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga," lanjutnya.

Program Pendampingan Gizi 2025 berfokus pada upaya pencegahan melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik. 

Intervensi dilakukan dengan mengombinasikan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi esensial berupa pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak.

Pendekatan pendampingan keluarga ini memungkinkan intervensi dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan. 

Dari perspektif akademis, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, menjelaskan bahwa pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan.

"Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5%. Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting."

Baca juga: Pakar Gizi Ingatkan Pentingnya Pendekatan Kesehatan Sederhana dan Preventif Jelang Tahun Baru

Di lapangan, peningkatan pemahaman keluarga juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik gizi. 

Selain intervensi kepada anak, program juga memperkuat edukasi keluarga melalui sesi pembelajaran gizi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan keamanan pangan, termasuk jajanan sehat. 

Ke depan, Nestlé Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pendekatan preventif melalui peningkatan kapasitas keluarga dan komunitas agar praktik gizi baik dapat diterapkan lebih dini dan berkelanjutan.

“Kami percaya keberlanjutan program terletak pada perubahan perilaku yang bertahan setelah intervensi selesai. Karena itu, kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas komunitas akan terus menjadi fokus kami dalam mendukung upaya pencegahan stunting di Indonesia,” pungkas Ankur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU