Kamis, 12 MARET 2026 • 12:40 WIB

BPJS Kesehatan: Biaya Penanganan Gagal Ginjal per Pasien Lebih Tinggi dari Penyakit Jantung

Author

Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg. Tiffany Monica di Jakarta. (ANTARA/Sri Dewi Larasati)

INDOZONE.ID - BPJS Kesehatan mencatat biaya penanganan penyakit gagal ginjal per pasien lebih tinggi dibandingkan penyakit jantung, meskipun secara total pembiayaan penyakit jantung masih menjadi yang terbesar.

Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan drg. Tiffany Monica mengatakan sepanjang 2025 BPJS Kesehatan menggelontorkan sekitar Rp13 triliun untuk penanganan penyakit gagal ginjal.

Angka tersebut menempatkan gagal ginjal sebagai pembiayaan tertinggi kedua, setelah penyakit jantung yang mencapai Rp17 triliun.

“Walaupun secara nominal pembiayaannya lebih besar untuk jantung, tapi secara pembiayaan per orang sebenarnya di ginjal jauh lebih besar,” kata Tiffany dalam diskusi kesehatan memperingati Hari Ginjal Sedunia 2026 di Jakarta, dikutip Kamis (12/3/2026).

Menurut Tiffany, perbedaan tersebut terlihat dari jumlah pasien yang menerima layanan. Penyakit jantung menjangkau sekitar 3 juta pasien, sedangkan pasien gagal ginjal hanya sekitar 640 ribu jiwa.

Baca juga: Rincian Iuran BPJS Kesehatan 2026 Terbaru: Besaran, Cara Bayar, dan Aturan Denda

Dengan demikian, biaya Rp13 triliun untuk penyakit ginjal digunakan oleh sekitar 600 ribu pasien, sedangkan pembiayaan Rp17 triliun untuk penyakit jantung digunakan oleh tiga juta pasien.

Terapi Berkelanjutan Jadi Faktor Biaya Tinggi

Tiffany menjelaskan pembiayaan penyakit ginjal cukup besar karena terapinya bersifat jangka panjang dan berkelanjutan.

Salah satunya adalah hemodialisis atau cuci darah yang harus dilakukan secara rutin dua hingga tiga kali dalam seminggu. Selain itu terdapat terapi transplantasi ginjal yang membutuhkan obat-obatan dengan biaya besar setiap bulan.

BPJS Kesehatan juga mencatat pada 2025 kasus gagal ginjal paling banyak terjadi pada laki-laki, terutama pada kelompok usia 50 hingga 60 tahun.

Namun demikian, BPJS juga menemukan munculnya kasus gagal ginjal pada kelompok usia produktif.

“Di usia belasan hingga 20 tahun, dalam data klaim BPJS Kesehatan sudah tercatat mengalami gagal ginjal,” ujar Tiffany.

BPJS Kesehatan mencatat klaim layanan hemodialisis terus mengalami peningkatan. Pada 2025 jumlah kunjungan klaim mencapai sekitar 147 ribu, naik sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi pembiayaan, total biaya hemodialisis diperkirakan mencapai sekitar Rp7 triliun sejak 2021. Dalam praktiknya, pasien menjalani terapi cuci darah sebanyak 9 hingga 12 kali dalam sebulan.

Selain hemodialisis, terapi lain seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) juga mulai meningkat. Pada 2025 terdapat sekitar 3.247 pasien CAPD dengan pembiayaan sekitar Rp210 miliar.

Baca juga: Jenis dan Tips Memilih Herbal untuk Gagal Ginjal: Mana yang Mulai Banyak Dicari Pasien di 2025?

“Jumlahnya memang terus bertambah setiap tahun, walaupun pertambahannya tidak eksponensial,” kata Tiffany.

Sementara itu, transplantasi ginjal juga menunjukkan peningkatan kecil. Pada 2025 tercatat 135 peserta menjalani transplantasi, sedikit lebih tinggi dibandingkan 130 peserta pada 2024.

Tiffany menilai tingginya biaya pengobatan gagal ginjal menunjukkan pentingnya pergeseran paradigma dari pendekatan kuratif yang mahal menuju strategi preventif.

Menurutnya, deteksi dini dan edukasi gaya hidup sehat perlu diperkuat untuk menekan beban ekonomi jangka panjang, sekaligus menjaga keberlanjutan pembiayaan layanan kesehatan.

“Perlu optimalisasi deteksi dini serta edukasi gaya hidup sehat sebagai langkah mitigasi beban ekonomi jangka panjang,” ujar Tiffany.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU