INDOZONE.ID - Cacar api mengintai lebih banyak orang dewasa dan lansia di Indonesia, terutama pada penderita jantung, diabetes, dan PPOK. Selain itu, penyakit ini juga rentan menyerang pengidap HIV atau AIDS, autoimun, dan kanker, yang dapat mengganggu kesehatan.
Sayangnya, belum banyak masyarakat Indonesia yang aware terhadap bahaya cacar api. Padahal, cacar api dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa.
Menurut penelitian global, studi klinis menunjukkan bahwa beberapa penyakit kronis meningkatkan risiko terkena cacar api, seperti penyakit jantung (CVD) sebesar 34%, penyakit ginjal (PGK) 29%, diabetes 38%, serta PPOK atau asma hingga 41%.
Survei global dari GSK bertajuk Shingles Action Week, sekaligus untuk mendukung Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada 7 April 2026, juga baru saja dirilis. Survei ini menunjukkan bahwa sebanyak 78% responden khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan 72% khawatir penyakit ini dapat menyebabkan rawat inap jangka panjang di rumah sakit.
Baca juga: Kenali Penyakit Cacar Api: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan
Sayangnya, lebih dari separuh (54%) responden belum pernah membicarakan cacar api dengan dokter. Temuan ini menunjukkan bahwa cacar api perlu lebih diperhatikan dalam pembahasan tentang penyakit kronis, serta penting bagi pasien untuk berdiskusi langsung dengan dokter mengenai hal ini.
Survei global ini melibatkan lebih dari 6.000 orang dewasa berusia 50 tahun ke atas di 10 negara untuk meneliti tingkat pengetahuan dan pengalaman tentang cacar api, khususnya pada orang dengan penyakit kronis. Kelompok ini termasuk mereka yang memiliki risiko lebih tinggi terkena cacar api dan berpotensi mengalami komplikasi yang lebih serius.
Data survei menyoroti pentingnya edukasi kesehatan masyarakat yang lebih baik tentang risiko dan dampak cacar api, khususnya bagi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas yang memiliki penyakit kronis. Hal ini penting karena 42% orang yang pernah mengalami cacar api mengalami nyeri berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dan 33% menyebut penyakit ini mengganggu aktivitas dan produktivitas harian.
Anggota PERDOSKI, dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E., Subsp.Ven, menanggapi bahwa berdasarkan berbagai penelitian, beberapa penyakit komorbid dan faktor tertentu terbukti meningkatkan risiko cacar api. Risiko tertinggi ditemukan pada pengidap HIV/AIDS (3,22 kali), diikuti kanker (2,17 kali) dan penyakit autoimun (1,3–2 kali).
Risiko juga meningkat pada penderita PPOK (1,41 kali), penyakit kardiovaskular (1,34 kali), dan diabetes (1,24 kali). Selain penyakit penyerta, faktor lain seperti usia lanjut, riwayat cacar api sebelumnya, stres, serta jenis kelamin perempuan juga berperan dalam meningkatkan risiko terkena cacar api.
“Risiko terkena Herpes Zoster memang lebih tinggi pada kelompok tertentu, yaitu kondisi imunokompromi, seperti penderita HIV/AIDS, pasien dengan penyakit keganasan, serta mereka yang berusia lanjut, riwayat keluarga dengan Herpes Zoster, dan jenis kelamin perempuan,” ujarnya saat ditemui di Jakarta.
Baca juga: Jangan Keliru, Simak Cara Membedakan Cacar Air dan Cacar Api dengan Mudah
Ia menjelaskan, dalam periode 2015 hingga 2022, tercatat setidaknya 390.000 kasus cacar api di sepuluh provinsi besar di Indonesia. Pada tahun 2021, pengeluaran BPJS untuk penanganan kasus (rawat jalan dan rawat inap) ini mencapai Rp27,1 miliar, tertinggi sepanjang periode pengamatan.
Di tingkat individu, biaya perawatan juga tidak ringan, dengan rawat inap mencapai hingga Rp10 juta per kasus dan rawat jalan hingga Rp3 juta. Besarnya beban ini menegaskan pentingnya upaya pencegahan sejak dini.
Dalam kesempatan yang sama, Director of Market Access Communication and Government Affairs GSK Indonesia, Reswita Dery Gisriani, mengatakan bahwa seiring bertambahnya usia, kekebalan tubuh memang menurun secara alami dan dapat diperburuk oleh berbagai penyakit kronis seperti kardiovaskular, diabetes, gangguan ginjal, dan PPOK, yang secara umum diketahui meningkatkan risiko terkena cacar api.
“Cacar api adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Karena itu, memahami faktor risiko ini menjadi langkah penting untuk mendorong upaya pencegahan dan menempatkan cacar api sebagai bagian dari perhatian dalam healthy ageing,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Reswita juga menekankan bahwa hasil survei ini menyoroti perlunya edukasi kesehatan masyarakat yang lebih masif mengenai bagaimana gangguan kesehatan kronis dan kekebalan tubuh yang menurun dapat meningkatkan risiko cacar api, terutama bagi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas yang hidup dengan kondisi kesehatan kronis tertentu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan