INDOZONE.ID - Kacamata anti sinar biru (blue-light glasses) makin banyak digunakan masyarakat, seiring meningkatnya durasi pemakaian perangkat digital di zaman modern.
Produsen kerap mengklaim, produk tersebut mampu mengurangi kelelahan mata akibat penggunaan perangkat digital, sekaligus meningkatkan kualitas tidur.
Namun, bagaimana sebenarnya fakta ilmiah di balik klaim tersebut? Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang beragam.
Meski banyak pengguna melaporkan peningkatan kenyamanan saat menggunakan kacamata ini, bukti ilmiah mengenai efektivitasnya masih belum konsisten.
Dikutip dari Medical Daily, beberapa studi bahkan hanya menemukan manfaat terbatas. Terlebih, terkait kualitas tidur jika digunakan secara strategis menjelang waktu istirahat.
Baca juga: Benarkah Kacamata Anti Sinar Biru Bantu Kurangi Mata Minus pada Anak? Ini Kata Dokter
Apa Itu Kacamata Anti Sinar Biru?
Kacamata anti sinar biru dirancang dengan lensa khusus, yang dapat menyaring sebagian spektrum cahaya biru yang dipancarkan oleh layar digital, dan lampu LED.
Umumnya, lensa ini mampu memblokir sekitar 20–30 persen cahaya biru. Jenisnya pun beragam.
Mulai dari lensa bening dengan lapisan anti-reflektif, hingga lensa berwarna kekuningan (amber) yang menyaring cahaya biru lebih kuat.
Kacamata ini tersedia dalam versi dengan maupun tanpa resep. Sehingga, kacamata tersebut dapat digunakan oleh siapa saja, baik yang memiliki gangguan penglihatan maupun tidak.
Memahami Paparan Sinar Biru
Cahaya biru berada pada panjang gelombang sekitar 400–500 nanometer, dalam spektrum cahaya tampak. Secara alami, sinar ini banyak ditemukan dalam sinar matahari, dan berperan penting dalam menjaga kewaspadaan serta suasana di siang hari.
Namun, paparan cahaya biru pada malam hari dapat mengganggu produksi melatonin, yaitu hormon yang mengatur siklus tidur.
Meski perangkat digital memancarkan cahaya biru dalam jumlah lebih kecil dibandingkan matahari, penggunaan perangkat pada malam hari dan jaraknya yang dekat dengan mata, dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap dampaknya pada ritme sirkadian dan kenyamanan visual.
Bukti Ilmiah yang Masih Beragam
Tinjauan sistematis Cochrane tahun 2023 menemukan, bukti efektivitas kacamata anti sinar biru dalam mengurangi kelelahan mata, atau meningkatkan performa visual, masih sangat terbatas.
Kualitas bukti yang tersedia pun dinilai rendah hingga sangat rendah.
Organisasi medis besar seperti American Academy of Ophthalmology menyatakan, paparan cahaya biru dari layar tidak menyebabkan kerusakan mata permanen. Hal itu bertentangan dengan klaim pemasaran yang sering beredar.
Sejumlah penelitian lain juga menunjukkan hasil yang tidak konsisten.
Studi tahun 2017, misalnya, hanya menemukan dukungan ilmiah yang minim terkait manfaat kacamata ini dalam mengurangi kelelahan mata.
Para peneliti juga menekankan, sulit untuk mengisolasi efek cahaya biru dari faktor lain seperti silau layar, jarak pandang, serta gangguan penglihatan yang belum terkoreksi.
Baca juga: Rekomendasi Kacamata untuk Wajah Bulat, Ini 5 Pilihan yang Bikin Tampilan Seimbang
Mengurangi Kelelahan Mata: Efektif atau Sekadar Efek Psikologis?
Kelelahan mata digital dialami hingga 69 persen pengguna komputer, dengan gejala seperti sakit kepala, mata kering, penglihatan kabur, dan ketegangan leher.
Meski kacamata anti sinar biru sering dipromosikan sebagai solusi, manfaat yang dirasakan kemungkinan lebih disebabkan oleh lapisan anti-reflektif yang mengurangi silau layar, bukan semata-mata karena penyaringan cahaya biru.
Sebagian ahli juga menilai adanya efek placebo, di mana pengguna merasa lebih nyaman karena percaya telah melakukan langkah preventif bagi kesehatan mata.
Banyak pengguna melaporkan peningkatan kenyamanan secara subjektif. Tapi, temuan ini tidak selalu konsisten dalam penelitian terkontrol.
Hal tersebut menunjukkan adanya variasi respons pada tiap individu.
Potensi Manfaat bagi Kualitas Tidur
Dibandingkan manfaat untuk mata, penelitian terkait kualitas tidur menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan.
Sebuah tinjauan tahun 2021 dalam jurnal Chronobiology International menemukan, penggunaan kacamata anti cahaya biru dapat mempercepat waktu untuk tertidur pada individu yang menggunakan layar sebelum tidur.
Penelitian lain pada 2018 terhadap pasien insomnia juga menunjukkan peningkatan kualitas tidur, ketika mereka menggunakan kacamata dengan lensa berwarna amber selama beberapa jam sebelum tidur.
Mekanisme ini berkaitan dengan produksi melatonin. Cahaya biru memberi sinyal pada otak untuk tetap waspada. Dengan menyaring cahaya tersebut pada 1–3 jam sebelum tidur, produksi melatonin dapat tetap optimal.
Para ahli menilai, ini merupakan manfaat paling potensial dari kacamata anti sinar biru, khususnya bagi individu dengan gangguan tidur, jet lag, atau jadwal kerja yang mengharuskan penggunaan layar pada malam hari.
Alternatif yang Lebih Efektif
Sebagian besar ahli kesehatan mata sepakat, kacamata anti sinar biru tidak diperlukan secara medis untuk menjaga kesehatan mata jangka panjang.
Ada sejumlah alternatif yang lebih sederhana dan terbukti efektif, antara lain:
- Mengaktifkan fitur ‘mode malam’ pada perangkat
- Mengatur kecerahan layar
- Menerapkan aturan 20-20-20 (setiap 20 menit melihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik)
- Menghindari penggunaan layar 2–3 jam sebelum tidur
- Mengatur posisi layar agar sejajar atau sedikit di bawah garis pandang mata
Langkah-langkah ini tidak hanya gratis, tapi juga langsung mengatasi penyebab utama kelelahan mata.
Baca juga: Tanda Kacamata Minus Sudah Tidak Efektif, Waktunya Ganti Sekarang!
Siapa yang Akan Merasakan Manfaatnya?
Meski bukti ilmiahnya terbatas, beberapa kelompok mungkin tetap merasakan manfaat, seperti:
- Individu yang harus menggunakan layar pada malam hari
- Orang yang sensitif terhadap silau layar
- Mereka yang mengalami sakit kepala saat bekerja di depan komputer
- Pengguna yang ingin mencoba solusi tambahan dengan biaya relatif terjangkau
Namun, penting untuk diingat, kacamata ini tidak boleh menggantikan pemeriksaan mata. Jika keluhan berlanjut, konsultasi dengan tenaga profesional tetap diperlukan.
Dengan demikian, kacamata anti sinar biru dapat dipertimbangkan sebagai alat tambahan, bukan kebutuhan utama dalam menjaga kesehatan mata dan kualitas tidur di era digital.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily