Rabu, 06 MEI 2026 • 17:06 WIB

Hustle Culture Bikin Badan Drop? Ini Cara Jaga Stamina

Author

Ilustrasi hustle culture. Kerja dari pagi hingga malam. (Dok. Freepik.)

INDOZONE.ID - Hustle Culture bikin banyak anak muda terbiasa kerja dari pagi sampai malam, tapi efeknya sering ke tubuh yang makin drop.

Hustle Culture adalah gaya hidup yang mendorong produktivitas tinggi tanpa henti, sering kali mengorbankan istirahat dan kesehatan. Akibatnya, stamina menurun dan fokus gampang hilang.

Fenomena ini makin terasa di kota besar. Kerja lembur, side hustle, sampai ngejar target pribadi jadi rutinitas.

Sekilas terlihat ambisius. Tapi di balik itu, banyak yang mulai kehilangan pola hidup sehat.

Tidur berantakan. Makan seadanya. Waktu istirahat makin tipis.

Hustle culture telah menjadi fenomena gaya hidup dimana pemikiran hidup untuk bekerja. Mendedikasikan kehidupan untuk bekerja sementara hal lain dikesampingkan.

“Hustle culture itu mindset-nya kita hidup untuk kerja yang lain entar dulu. Bukan kerja untuk hidup,” ujar Psikolog dari UGM, Indrayanti dikutip dari laman UGM.

Tubuh sebenarnya kasih sinyal. Cepat capek, susah fokus, gampang sakit. Tapi sering diabaikan. Pertanyaannya, seberapa lama tubuh bisa tahan?

Baca juga: Cara Mengatasi Hustle Culture, Biar Nggak Kerja Terus Sampai Lupa Hidup

Baca juga: Hustle Culture VS Work Life Balance: Pengertian dan Contoh Konkrit Dalam Kehidupan

Kenapa Tubuh Cepat Drop?

Saat aktivitas padat terus dipaksakan, tubuh kekurangan “bahan bakar”.

Nutrisi tidak cukup. Energi terkuras. Sistem imun ikut melemah.

Banyak yang akhirnya bergantung ke kopi atau minuman berkafein. Efeknya memang cepat terasa. Tapi cuma sebentar.

Setelah itu, badan justru bisa lebih lelah. Ini siklus yang sering kejadian, apalagi di kalangan pekerja urban.

Secara sederhana, tubuh butuh energi yang stabil, bukan lonjakan sesaat.

Cara Jaga Stamina di Tengah Rutinitas Padat

Kunci utamanya sebenarnya basic. Tapi sering dilupakan.

Tidur cukup. Minimal 6–7 jam. Makan teratur. Jangan skip minum air putih.

Selain itu, asupan nutrisi juga penting. Bukan sekadar kenyang, tapi cukup gizi.

Di sinilah banyak orang mulai cari alternatif praktis. Termasuk minuman nutrisi yang lebih mudah dikonsumsi di sela aktivitas.

Salah satu yang sering disebut adalah Etawanesia. Susu ini menggabungkan susu kambing Etawa dan ekstrak daun kelor.

Susu kambing Etawa dikenal lebih mudah dicerna dibanding susu biasa. Kandungan proteinnya bantu menjaga kondisi tubuh tetap fit.

Sementara daun kelor punya vitamin dan antioksidan yang mendukung daya tahan tubuh.

Kombinasi ini membuat energi terasa lebih stabil, bukan instan lalu hilang. Etawanesia hadir dalam bentuk yang praktis dikonsumsi. Cocok untuk kamu yang punya mobilitas tinggi dan tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan asupan nutrisi secara ribet.

Cukup dikonsumsi sebelum memulai aktivitas atau di sela kesibukan, tubuh bisa tetap terjaga performanya.

Antara Ambisi dan Kesehatan

Buat mahasiswa, pekerja kantoran, sampai freelancer, tekanan produktivitas itu nyata. Deadline datang terus. Kompetisi makin ketat.

Wajar kalau banyak yang memilih terus “gas”. Tapi ada titik di mana tubuh mulai melawan.

Menariknya, tren sekarang mulai berubah. Banyak anak muda mulai sadar pentingnya balance. Istilah seperti “rest is productive” mulai sering muncul.

Artinya, istirahat bukan kelemahan. Justru bagian dari strategi.

Jadi, Harus Berhenti Hustle?

Nggak juga. Hustle boleh. Ambisi juga perlu. Tapi harus tahu batas.

Tubuh bukan mesin. Kalau dipaksa terus, performa malah turun.

Menjaga stamina itu bukan soal gaya hidup sehat semata. Ini soal bertahan dalam jangka panjang.

Kalau mau tetap produktif tanpa tumbang di tengah jalan, mulai dari hal sederhana. Tidur cukup, makan benar, dan penuhi kebutuhan nutrisi. Sisanya, tinggal konsisten.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU