INDOZONE.ID - Pernah merasa kuku tiba-tiba gampang patah saat membuka kaleng minuman, menggaruk sesuatu, atau bahkan saat sedang mengetik?
Banyak orang menganggap kuku rapuh hanyalah masalah sepele akibat terlalu sering terkena air, sabun, atau penggunaan produk kecantikan.
Padahal, kondisi kuku yang mendadak menjadi tipis, lembek, dan mudah terkelupas bisa menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami masalah tertentu. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai hapalonychia.
Yang mengejutkan, penyebabnya bukan cuma soal perawatan kuku yang salah. Kekurangan nutrisi, anemia akibat defisiensi zat besi, hingga gangguan kesehatan tertentu juga bisa menjadi pemicunya.
Baca juga: Kuku Kuning Karena Infeksi Jamur? Dokter Biasanya Pakai Obat Ini untuk Mengatasinya
Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak awal sebelum kondisi kuku semakin memburuk.
Apa Itu Hapalonychia?
Hapalonychia adalah kondisi ketika kuku menjadi sangat tipis, lunak, dan rapuh. Dalam kondisi normal, kuku memiliki lapisan keratin yang cukup kuat untuk melindungi permukaannya. Namun saat mengalami hapalonychia, kuku jadi lebih lemah dan rentan rusak.
Gejalanya biasanya meliputi kuku terasa lembek, mudah patah, permukaan kuku tampak tipis dan kuku gampang mengelupas.
Sekilas terlihat seperti masalah kosmetik biasa, padahal kondisi ini bisa berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Baca juga: Kuku Kamu Kuning? Vitamin E Bisa Bantu Mengatasinya!
Penyebabnya Bukan Cuma Kurang Perawatan
Salah satu penyebab paling umum hapalonychia adalah malnutrisi atau tubuh kekurangan asupan nutrisi penting.
Ketika tubuh kekurangan zat gizi tertentu, kuku jadi salah satu bagian pertama yang menunjukkan tanda-tandanya.
Selain itu, anemia defisiensi zat besi juga sering dikaitkan dengan kondisi ini. Kurangnya zat besi dapat mengganggu produksi sel darah merah dan berdampak pada pertumbuhan kuku yang sehat.
Tapi tunggu dulu, penyebabnya bisa lebih kompleks dari itu! Beberapa kondisi lain yang juga bisa memicu hapalonychia antara lain:
Baca juga: Cara Alami Mengatasi Kuku yang Tiba-Tiba Menguning dengan Oregano Oil
- Gangguan penyerapan nutrisi
- Intoleransi makanan tertentu
- Infeksi parasit
- Pola makan ekstrim atau diet sembarangan
- Masalah kesehatan lain yang membuat tubuh sulit menyerap vitamin dan mineral
Artinya, kuku rapuh bisa jadi sinyal bahwa tubuh sedang “teriak” minta perhatian.
Baca juga: Vaksin Wajib Anak di Indonesia, Simak Daftar Lengkapnya
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Penanganan hapalonychia tergantung pada akar masalahnya. Karena itu, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh.
Jika penyebabnya berkaitan dengan nutrisi, langkah yang biasanya dilakukan adalah:
1. Memperbaiki pola makan
Perbanyak konsumsi makanan yang kaya zat besi, protein, vitamin, dan mineral, seperti daging merah, telur, bayam, ikan, kacang-kacangan, serta sayur hijau lainnya.
Nutrisi yang cukup bisa membantu kuku tumbuh lebih kuat dan sehat.
Baca juga: Warna Kuku Menguning? Jangan Panik! Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
2. Konsumsi suplemen jika diperlukan
Dalam beberapa kasus, dokter bisa merekomendasikan suplemen tambahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Tapi ingat, jangan asal beli suplemen hanya karena lihat rekomendasi di media sosial.
3. Atasi penyakit yang mendasarinya
Jika penyebabnya adalah intoleransi makanan, infeksi parasit, atau gangguan kesehatan tertentu, maka kondisi tersebut harus ditangani terlebih dahulu agar kuku bisa kembali normal.
Baca juga: Tips Mudah Atasi Bintitan di Kelopak Mata agar Cepat Kempis, Jangan Asal Pegang
Jangan Tunggu Sampai Kuku Makin Rusak
Kuku yang berubah jadi tipis dan rapuh memang terlihat sepele. Namun dibalik itu, bisa saja ada masalah kesehatan yang lebih serius.
Kalau kondisi kuku terus memburuk dan nggak kunjung membaik, sebaiknya segera konsultasi ke dokter.
Karena ternyata, kuku yang gampang patah bukan cuma bikin penampilan terganggu — tapi juga bisa jadi kode keras dari tubuh bahwa ada sesuatu yang nggak beres.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline