INDOZONE.ID - Fenomena El Nino membawa dampak buruk pada berbagai penularan penyakit. Salah satu yang dikhawatirkan adalah dengue alias DBD.
Dengue masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus dengue masih tinggi, dengan persebaran wilayah yang semakin luas.
Peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. Fenomena ini berpotensi berlanjut dengan probabilitas di atas 90 persen hingga akhir tahun.
Kepala Seksi (Kasi) Surveilance Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr Budi Setiawan,MEpid menuturkan, Pemprov DKI Jakarta tetap berusaha menomorsatukan edukasi tentang dengue.
Baca juga: Viral Pria Minum Oli Mesin Setiap Pagi, Tetap Sehat Selama 33 Tahun
Edukasi dengue selalu digalakkan setiap kali melakukan kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan kegiatan masyarakat lainnya.
“Jakarta itu sudah memiliki kalender 10 tahunan, dan di kalender itu sebenarnya di tahun 2024, kita sudah lihat kasusnya itu paling tinggi dibandingkan kalau kita tarik petihat, dan juga fenomena El Nino, dan sebagainya,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat 19 Juni 2026.
Ia memprediksi bahwa kasus DBD di 2027 nanti akan mengalami peningkatan dibandingkan 2026. Karenanya, ia mengajak masyarakat untuk semakin aware melakukan pencegahan dengue.
Namun, menurutnya, hingga saat ini Jakarta memiliki karakteristik yang unik. Di satu sisi, mobilitas masyarakat yang sangat tinggi membuat potensi penyebaran berbagai penyakit, termasuk demam berdarah dengue (DBD), berlangsung lebih cepat.
Baca juga: 7 Manfaat Jus Semangka dan Apel untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu
Di sisi lain, kepadatan penduduk dan kebiasaan berkumpul di satu tempat juga dapat mempercepat proses penularan penyakit.
“Ini menjadi tantangan tersendiri di Jakarta. Masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain yang berada jauh dari tempat tinggalnya. Sementara itu, kepadatan dan aktivitas berkumpul di berbagai lokasi juga dapat mempercepat penyebaran penyakit,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dokter Budi menegaskan bahwa masyarakat di Jakarta juga seringkali diajak untuk menjaga lingkungan. Salah satu fokus utama adalah tidak menimbun sampah yang bisa memicu persebaran nyamuk.
“Kita telah melakukan beberapa gerakan kepedulian sampah terutama dan kebersihan lingkungan sampai di 2026 ini,” bebernya.
Baca juga: 7 Minuman Tinggi Kalsium yang Bisa Jadi Pengganti Susu untuk Menjaga Kesehatan Tulang
Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan bahwa dalam dalam lima tahun terakhir, kasus DBD justru paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15-44 tahun, yakni mencapai 42 persen dari total kasus pada 2025.
Sementara pada anak-anak, kasusnya dalam 7 tahun terakhir menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD di kalangan kelompok usia 5-14 tahun.
Dalam acara ABCD Land “Ayo Bersama Cegah DBD” bersama Takeda di Urban Forest Jakarta, Tim Kerja Arbovirosis Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Agus Handito, SKM, MEpid menegaskan, dengue membawa dampak signifikan terhadap penyakit, kematian, maupun pembiayaan kesehatan nasional.
“Pada tahun 2025, tercatat sekitar 161.000 kasus dengue dengan lebih dari 600 kematian. Sampai saat ini, jumlah kasus demi sebanyak 339.672 kasus dengan incident rate 13,8% di luar negeri. Dan 105 kematian daripada dengue dengan kesalahan besar,” ujarnya.
Baca juga: Apa Itu Buta Warna? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Dokter Agus menekankan bahwa keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan dan perusahaan saja.
“Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia dan sektor komunikasi publik, organisasi profesi, dan masyarakat luas,” tambahnya.
Dalam penanggulangan dengue, pencegahan melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dan vaksinasi perlu dilakukan agar dapat menghentikan transmisi dengue.
Selain itu, deteksi melalui pengenalan pola demam dan warning sign juga bisa membantu mendapat keputusan cepat untuk membawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Baca juga: Kenapa Tiba-tiba Deg-degan Tanpa Sebab? Ini Penjelasan Medisnya
Senada, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM juga mengajak masyarakat untuk melakukan pencegahan 3M plus dan vaksinasi.
“Kita tahu bahwa dengue ini dapat dicegah dengan vaksinasi untuk proteksi jangka panjang agar tidak terkena infeksi dengue, dan menghindari sakit berat,” katanya.
“Dengan vaksinasi harapannya bisa merangsang kekebalan dan apabila ada penyakit tersebut datang, tubuh bisa melawan dan pertahanannya kuat dan lebih ringan,” sambungnya.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines Andreas Gutknecht menyoroti bahwa setiap orang Indonesia berisiko terinfeksi DBD tanpa melihat umur dan gaya hidup. Menurut dia, penyakit ini adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di kalangan masyarakat.
Baca juga: Tren Kecantikan Bergeser, Masyarakat Kini Cari Solusi Kesehatan yang Lebih Menyeluruh
“Kita harus lawan DBD, bersama kita bisa dan kita harus lakukan sekarang. Tidak ada pengobatan spesifik untuk DBD, karena itu pencegahan dengan vaksinasi yang direkomendasi oleh asosiasi dokter Indonesia perlu dilakukan,” paparnya.
Ditambah lagi dengan fenomena El Nino yang sebagian besar kali ini akan mencapai intensitas sedang hingga kuat. Kondisi ini pasti akan memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, dan berpotensi memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.
“Kini saatnya meningkatkan kewaspadaan, karena para ahli sebut El Nino pengeruhnya kuat dengan risiko DBD di Indonesia,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan