Ilustrasi gigitan nyamuk DBD (Freepik/plotphoto)
INDOZONE.ID - Demam berdarah dengue (DBD) umumnya diawali dengan demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot.
Namun, pada sebagian kasus, infeksi dengue dapat berkembang ke fase kritis yang berbahaya, terutama setelah demam mulai turun.
Fase kritis ini, ditandai dengan kebocoran plasma darah dan perdarahan. Hal itu berisiko menyebabkan syok, hingga kegagalan organ bila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Tanpa intervensi medis, sekitar 5 persen kasus dengue dapat berkembang menjadi kondisi berat dan berujung fatal.
Risiko tersebut meningkat pada infeksi dengue kedua, akibat fenomena antibody-dependent enhancement, yaitu respons imun yang justru memperparah kebocoran pembuluh darah.
Oleh karena itu, memahami perbedaan antara gejala yang masih tergolong ringan, dan tanda peringatan yang mengarah pada dengue berat menjadi hal penting, baik bagi orang tua, traveler, maupun tenaga kesehatan.
Baca juga: 7 Makanan Penambah Trombosit Paling Ampuh: Bantu Pemulihan Cepat dari DBD
Ilustrasi penyebaran DBD (Unsplash)
Dikutip dari Medical Daily, pada tahap awal, gejala demam dengue sering menyerupai influenza, sehingga mudah terlewatkan.
Keluhan biasanya muncul secara mendadak, dan memburuk dalam beberapa hari pertama, terutama saat fase demam.
Meski terasa tidak nyaman, pada fase ringan ini umumnya belum terjadi kebocoran cairan atau perdarahan yang berbahaya.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian besar kasus dengue ringan dapat sembuh dalam waktu sekitar satu minggu.
Namun, kondisi tersebut tetap memerlukan pemantauan, karena tanda bahaya sering muncul saat demam mulai turun.
Gejala demam dengue ringan yang umum meliputi:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily