INDOZONE.ID - Prancis mengonfirmasi kasus Ebola pertama di negaranya. Pasien saat ini dalam kondisi stabil dan telah diisolasi di ruangan khusus untuk mencegah penularan.
Kementerian Kesehatan negara itu menyebut pasien positif merupakan seorang dokter yang baru saja kembali dari misi kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo.
"Semua tindakan pencegahan, termasuk isolasi pasien, telah dilakukan setibanya di negara ini, dengan pemindahan ke rumah sakit di bawah kondisi yang aman untuk mencegah risiko penularan," bunyi pernyataan Kementerian kesehatan.
Republik Demokratik Kongo merupakan salah satu negara di Afrika yang terdampak wabah Ebola. Otoritas kesehatan Prancis kini melacak kontak erat pasien. Kementerian menegaskan risiko penularan bagi masyarakat umum di Eropa sangat rendah.
Baca juga: Kenali Ciri-ciri Speech Delay pada Anak serta Penanganannya
Republik Demokratik Kongo yang menjadi tempat dokter Prancis tertular sedang berjuang mengatasi penyebaran wabah.
Per 21 Juni, 1.048 kasus Ebola terkonfirmasi dengan 267 pasien meninggal dunia, dan sisanya sembuh.
Para ahli meyakini bahwa virus tersebut telah bersirkulasi di DRC tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu sebelumnya. Skala wabah diperkirakan jauh lebih besar daripada jumlah kasus yang terkonfirmasi.
Di Republik Demokratik Kongo, varian virus yang menyebar ialah virus Bundibugyo yang tergolong langka. Belum ada vaksin atau pengobatan yang mendapat persetujuan otoritas kesehatan untuk mengatasi varian ini.
Baca juga: Psikolog Ungkap Ibu Rumah Tangga Rentan Alami Kelelahan Emosi dan Fisik Karena Pekerjaan Rumah
Wabah ini, berdasarkan pemodelan yang dibuat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, bisa menjadi yang terbesar dalam sejarah.
Wabah terbesar pernah terjadi di Afrika Barat antara tahun 2014 hingga 2016 yang mengakibatkan 28.000 orang terinfeksi. Sebanyak 11.000 orang di antaranya meninggal dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian