Bahaya Sleep Apnea yang Jarang Disadari, Risiko Demensia Bisa Meningkat Hingga Dua Kali Lipat
INDOZONE.ID - Sleep apnea atau gangguan tidur yang menyebabkan napas berhenti berulang kali, kerap kali mengganggu kualitas istirahat.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan, kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kesehatan otak, dan meningkatkan risiko gangguan fungsi kognitif hingga demensia.
Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA), menjadi salah satu penelitian pertama yang menunjukkan adanya hubungan biologis antara sleep apnea dan penurunan kognitif.
Ketua penelitian, profesor psikiatri, neurologi, dan epidemiologi dari University of California, San Francisco (UCSF), Dr. Kristine Yaffe, mengatakan, hasil penelitian tersebut memberikan pemahaman baru mengenai dampak sleep apnea terhadap kesehatan otak.
"Penelitian ini menunjukkan, sleep apnea berpotensi berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif," ujar Dr. Yaffe, yang juga Kepala Psikiatri Geriatri di San Francisco Veterans Affairs Medical Center (SFVAMC).
"Temuan ini juga mengindikasikan adanya hubungan biologis antara kualitas tidur dan fungsi otak, serta membuka kemungkinan bahwa pengobatan sleep apnea dapat membantu mencegah atau menunda timbulnya demensia pada lansia," sambungnya.
Baca juga: Sering Mendengkur? Bisa Jadi Tanda Sleep Apnea yang Diam-diam Merusak Jantung
Apa Itu Sleep Apnea?
Dikutip dari Medical Daily, sleep apnea merupakan gangguan yang ditandai dengan berhentinya napas secara berulang selama seseorang tertidur.
Pada sebagian besar kasus, jeda napas berlangsung selama 10 hingga 20 detik atau lebih, dan dapat terjadi lebih dari 30 kali dalam satu jam.
Gangguan ini umumnya disebabkan oleh penyumbatan saluran napas akibat relaksasi jaringan lunak di bagian belakang tenggorokan atau langit-langit mulut.
Akibatnya, pasokan oksigen ke berbagai organ tubuh, termasuk otak, menjadi berkurang.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi organ, dan memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Penelitian Melibatkan Hampir 300 Perempuan Lansia
Dalam penelitian tersebut, tim UCSF melibatkan 298 perempuan lanjut usia yang pada awal penelitian tidak mengalami demensia, maupun gangguan fungsi kognitif.
Para peneliti kemudian memantau kondisi peserta menggunakan berbagai alat pemeriksaan canggih yang mampu merekam:
- Aktivitas otak.
- Kadar oksigen dalam darah.
- Irama jantung.
- Aliran udara saat bernapas selama tidur.
Pemeriksaan tersebut juga mendeteksi kejadian apnea maupun hipopnea, yaitu penurunan aliran udara hingga 30 persen atau lebih selama tidur.
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui, apakah terdapat hubungan antara sleep apnea dengan penurunan kemampuan berpikir seiring bertambahnya usia.
Kekurangan Oksigen Diduga Berperan Besar
Hasil penelitian menunjukkan, sekitar 35,2 persen peserta mengalami demensia atau gangguan kognitif ringan selama masa tindak lanjut.
Peneliti menemukan, perempuan yang mengalami sleep apnea memiliki risiko hampir dua kali lipat penurunan fungsi kognitif, dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Baca juga: Tanda Sleep Apnea Bisa Muncul Setelah Bangun Tidur, Berikut Tandanya!
Analisis lebih lanjut menunjukkan, faktor yang paling berpengaruh adalah hipoksia, yaitu kondisi ketika kadar oksigen dalam tubuh berada di bawah normal.
Peserta yang lebih sering mengalami penurunan kadar oksigen, atau menghabiskan waktu tidur lebih lama dalam kondisi hipoksia, memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gangguan fungsi otak.
Sebaliknya, frekuensi terbangun saat tidur karena kesulitan bernapas, tidak ditemukan memiliki hubungan langsung dengan peningkatan risiko demensia.
Temuan ini mengindikasikan, kekurangan oksigen kemungkinan menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan kemampuan berpikir pada penderita sleep apnea.
Terapi CPAP Masih Menjadi Pengobatan Utama
Laporan dari U.S. Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) menyebutkan, terapi paling efektif untuk mengatasi obstructive sleep apnea adalah penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).
Alat CPAP bekerja dengan cara mengalirkan udara bertekanan melalui masker yang dikenakan selama tidur, sehingga saluran napas tetap terbuka.
Berbagai penelitian menunjukkan, terapi ini mampu memperbaiki kualitas tidur sekaligus mengurangi gejala sleep apnea secara signifikan.
Alternatif Pengobatan Selain CPAP
Selain CPAP, penelitian juga menunjukkan, alat bantu mulut bernama Mandibular Advancement Device (MAD) dapat menjadi pilihan terapi bagi sebagian pasien.
Perangkat ini berfungsi menggeser rahang bawah sedikit ke depan, sehingga saluran napas tetap terbuka selama tidur.
Terapi itu umumnya digunakan pada penderita sleep apnea ringan hingga sedang atau bagi pasien yang tidak nyaman menggunakan CPAP.
Jangan Abaikan Gejala Sleep Apnea
Sleep apnea sering kali tidak disadari, karena terjadi saat seseorang tertidur. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Mendengkur keras.
- Napas berhenti saat tidur yang disadari pasangan tidur.
- Terbangun sambil tersedak atau megap-megap.
- Mengantuk berlebihan pada siang hari.
- Sakit kepala saat bangun tidur.
- Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.
Apabila mengalami gejala tersebut, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Penanganan sleep apnea sejak dini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas tidur, tapi juga berpotensi mengurangi risiko berbagai komplikasi kesehatan, termasuk penyakit jantung, stroke, hipertensi, serta penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily