Ilustrasi resign dari kantor toxic. (freepik)
INDOZONE.ID - Pernah merasa kemampuanmu tiba-tiba seperti menghilang setelah keluar dari kantor lama? Padahal sebelumnya kamu percaya diri dan mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Tanpa disadari, lingkungan kerja yang toxic memang bisa meninggalkan dampak psikologis yang tidak langsung hilang begitu saja.
Rasa ragu, takut membuat kesalahan, hingga terus mempertanyakan kemampuan diri menjadi hal yang sering dialami banyak mantan karyawan.
Bahkan, penelitian dari MIT Sloan School of Management mengungkapkan bahwa budaya kerja yang toxic menjadi alasan utama seseorang memilih meninggalkan pekerjaannya.
Baca juga: Arti 'Summum Bukmum Umyum Fahum Layarjiun' Artinya dalam Surah Al-Baqarah
Kabar baiknya, kepercayaan diri yang sempat terkikis bukan sesuatu yang hilang selamanya. Ada langkah sederhana yang bisa menjadi awal untuk membangun kembali keyakinan terhadap diri sendiri.
Salah satu dampak yang paling sering dirasakan setelah keluar dari lingkungan kerja yang toxic adalah kebiasaan menyalahkan diri sendiri.
Meski sudah tidak lagi bekerja di tempat tersebut, banyak orang masih dihantui pikiran seperti, “Seandainya aku lebih berani membela diri,” atau “Mungkin aku memang terlalu sensitif.”
Tanpa disadari, pola pikir seperti ini bisa terus terbawa dan perlahan mengikis rasa percaya diri.
Baca juga: Dunia Kerja Berubah Cepat, Menaker: Anak Muda Harus Punya Future Skills
Padahal, perilaku atasan yang suka mengintimidasi, budaya kerja yang tidak sehat, atau tuntutan pekerjaan yang melampaui batas bukanlah kesalahan karyawan.
Lingkungan yang toxic sering kali membuat seseorang merasa tidak cukup baik, meski sebenarnya ia sudah bekerja semaksimal mungkin.
Akibatnya, korban justru lebih sibuk mencari kesalahan pada diri sendiri daripada menyadari akar masalah yang sebenarnya.
Karena itu, langkah pertama untuk memulihkan kepercayaan diri adalah berhenti memikul semua kesalahan sendirian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com