Selasa, 14 JULI 2026 • 16:20 WIB

Psikolog Ungkap 3 Aturan Mengekspresikan Emosi agar Tak Memicu Konflik dengan Orang Lain

Author

Ilustrasi emosi. (Magnific)

INDOZONE.ID - Mengekspresikan emosi memang penting untuk menjaga kesehatan mental. Namun, psikolog mengingatkan bahwa cara, waktu, dan kepada siapa emosi disampaikan juga menentukan apakah pesan tersebut akan diterima dengan baik atau justru memicu kesalahpahaman.

Mengutip Psychology Today, psikolog dari Australian National University, Conal Monaghan, bersama tim peneliti menjelaskan bahwa setiap masyarakat memiliki display rules, yaitu norma sosial yang mengatur kapan seseorang dianggap tepat menunjukkan atau menahan emosinya.

Melalui penelitian terhadap responden dewasa di Inggris, tim peneliti mengembangkan Expression Regulation Scale (ERS) untuk memahami bagaimana masyarakat memandang ekspresi emosi dalam berbagai situasi, baik di ruang publik maupun privat, serta ketika bersama orang terdekat atau orang yang belum akrab.

Baca juga: Cara Mudah Membangun Bonding dengan Gen Alpha, Psikolog dan Dokter Bagikan Tipsnya

Peneliti Kelompokkan Emosi Menjadi Tiga Jenis

Dalam studi tersebut, emosi dibagi menjadi tiga kategori utama, yaitu:

  1. Emosi afiliatif, seperti bahagia, bangga, penuh harapan, kasih sayang, dan antusias.
  2. Emosi disruptif, seperti marah, benci, iri, dan kesal.
  3. Emosi rentan, seperti sedih, takut, malu, bersalah, dan merasa terluka.

Berdasarkan pembagian tersebut, para peneliti merumuskan tiga aturan utama dalam mengekspresikan emosi agar tetap sesuai dengan norma sosial.

1. Emosi Positif Boleh Diungkapkan Secara Terbuka

Menurut penelitian, emosi positif umumnya dapat diekspresikan secara terbuka karena lebih mudah diterima dalam berbagai situasi.

Menunjukkan rasa bahagia, bangga, atau antusias dinilai wajar, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, selama tetap memperhatikan konteks dan situasi.

2. Kemarahan Sebaiknya Dikendalikan

Berbeda dengan emosi positif, emosi disruptif seperti kemarahan sebaiknya tidak diluapkan secara sembarangan.

Peneliti menemukan bahwa berteriak atau meluapkan amarah di depan umum, terutama kepada orang yang tidak dikenal, termasuk perilaku yang paling bertentangan dengan norma sosial dan cenderung mendapat penilaian negatif.

3. Emosi Rentan Lebih Tepat Disampaikan kepada Orang Terdekat

Perasaan sedih, takut, malu, atau bersalah lebih mudah diterima ketika diungkapkan kepada pasangan, keluarga, atau orang yang memiliki hubungan dekat.

Baca juga: Psikolog Ungkap Alasan Kamu Susah Produktif: Bukan karena Malas atau Kurang Disiplin!

Menurut peneliti, hubungan yang saling mendukung membuat seseorang lebih leluasa menunjukkan kerentanan tanpa mengganggu kualitas hubungan tersebut.

Memahami Cara Mengungkapkan Emosi Bisa Mengurangi Kesalahpahaman

Monaghan dan tim menyimpulkan bahwa kemampuan memahami kapan, kepada siapa, dan bagaimana emosi diungkapkan merupakan bagian penting dari keterampilan sosial.

Dengan memilih cara yang tepat untuk mengekspresikan perasaan, seseorang tidak hanya dapat menjaga kesehatan mental, tetapi juga membangun hubungan yang lebih sehat sekaligus mengurangi risiko terjadinya kesalahpahaman dengan orang lain.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychology Today

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU