Ilustrasi gen z merasa usia 22 sudah tua, sementara milenial masih muda di 35. (Freepik)
INDOZONE.ID - Bagi banyak gen z, usia 22 tahun sudah terasa terlambat. Terlambat sukses, terlambat healing, bahkan terlambat menikmati hidup.
Di usia yang seharusnya penuh eksplorasi, banyak dari mereka justru dilanda kelelahan mental.
Mereka tumbuh di tengah tekanan digital sejak remaja, melihat teman sebaya viral, punya bisnis sampingan, atau keliling dunia tiap bulan.
Hasilanya? Banyak gen z mengalami burnout dini sebelum hidup benar-benar dimulai.
Baca juga: Dopamine Fasting Diam-Diam Merebak di Kalangan Gen Z, Gaya Hidup Tak Lazim tapi Efektif!
Fenomena ini dikenal sebagai "keletihan eksistensial" yakni rasa capek karena merasa harus selalu "mengejar" hidup.
Di usia awal 20-an, banyak dari mereka sudah merasa tua. Bukan karena fisik, tapi karena mental mereka sudah dibebani standar dewasa yang berat sejak dini.
Sementara itu, milenial justru sebaliknya. Di usia 30-an mereka masih percaya bahwa mereka masih muda.
Generasi ini dibesarkan dengan semangat optimisme pasca-reformasi, namun kemudian dihantam realita ekonomi, harga rumah makin tak terjangkau, utang pendidikan menumpuk, karier stagnan.
Tapi mereka tidak menyerah. Alih-alih merasa tua, milenial justru menciptakan budaya healing, inner child, dan adulting sebagai bagian dari identitas.
Baca juga: Mengenal Kidulting, Tren Viral yang Bikin Mental Lebih Sehat bagi Milenial dan Gen Z
Bagi milenial, menua bukan berarti harus terlihat tua. Mereka merayakan masa dewasa dengan gaya hidup yang tetap muda di hati.
Mungkin karena hidup memang terasa berat, berpura-pura muda sedikit lebih lama adalah bentuk perlawanan yang paling masuk akal.
Gen z dipaksa dewasa terlalu cepat. Milenial menua sambil terus berusaha menunda tua. Dua generasi, dua cara berbeda untuk bertahan di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/pandemictalks