INDOZONE.ID - Jauh dari gawai, tanpa musik, tanpa camilan favorit, bahkan hanya duduk dan menatap dinding. Gaya hidup ini makin digandrungi anak muda.
Aktivitas tersebut bahkan punya nama keren: Puasa dopamin! Apa sih itu puasa dopamin? Kenapa mereka rela “menderita” demi otaknya? Mari kita bahas.
Notifikasi, TikTok, makanan cepat saji, game online, bahkan suara notifikasi WhatsApp saja bisa memicu lonjakan dopamin di otak.
Namun ternyata, hal-hal tersebut justru membuat banyak orang mengalami kelelahan mental tanpa mereka sadari.
Otak butuh istirahat dari kesibukan yang kita ciptakan sendiri. Inilah yang memicu tren baru dopamine fasting, alias puasa dopamin.
Baca juga: Apa Itu Dopamin, Hormon yang Bisa Membuat Kamu Senang saat Nonton Konten syur
Dopamin merupakan zat kimia di otak yang berperan dalam menimbulkan perasaan puas dan memotivasi kita untuk bertindak.
Tapi, terlalu sering “dikasih makan” oleh reward instan bikin otak jadi kebal. Hal-hal sederhana yang dulunya bisa menghadirkan kebahagiaan, kini terasa datar dan tak lagi bermakna.
Itu sebabnya, scrolling TikTok selama 3 jam pun kadang bikin kita makin stres, bukan rileks. Dengan puasa dopamin, otak diberi kesempatan untuk “detoks” dan kembali menghargai kesenangan sederhana, seperti ngobrol langsung, baca buku, atau bahkan tidur siang.
Tapi bukan sekadar detoks gadget. Ini bukan tren sekilas kayak digital detox yang viral di Instagram.
Dopamine fasting punya makna lebih dalam. Mereka yang menjalaninya rela menjauh dari semua sumber kesenangan instan.
Baca juga: 5 Hal yang Berubah Drastis Kalau Kamu Berhasil Puasa Medsos Selama 4 Tahun, Bisa Jadi Diri Sendiri!
Artinya: no medsos, no junk food, no hiburan, no chatting. Tujuannya untuk menyegarkan kembali pikiran agar lebih peka terhadap hal-hal kecil yang dulunya terasa menyenangkan, namun kini terasa biasa saja.
Bayangkan satu hari tanpa internet, tanpa musik, tanpa scrolling TikTok. Hanya ada kamu dan alam (atau tembok kamar). Kedengarannya membosankan, bahkan menyiksa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Blog.mindvalley.com