Ilustrasi Kota 15 Menit (sumber: freedomofmobility.stellantis)
INDOZONE.ID - Konsep 15-minute city atau “kota 15 menit” awalnya dipandang sebagai solusi ideal bagi kehidupan perkotaan, lebih sehat, efisien, dan ramah lingkungan karena segala kebutuhan harian bisa dijangkau hanya dalam waktu 15 menit dari tempat tinggal. Bayangkan saja, semua kebutuhan harian sekolah, tempat kerja, taman, pusat perbelanjaan, bahkan klinik, bisa dijangkau hanya dalam waktu 15 menit berjalan kaki atau bersepeda. Tapi siapa sangka, konsep ini kini justru memicu gelombang kecurigaan global. Sebagian orang menyebutnya sebagai bentuk ‘open-air lockdown’, alias penjara terbuka yang menyamar sebagai inovasi kota ramah warga.
Dari Solusi Urban ke Mimpi Buruk Distopia
Gagasan kota 15 menit pertama kali dipopulerkan oleh profesor urban asal Prancis, Carlos Moreno. Ia menggambarkannya sebagai “ekosistem lokal” yang memungkinkan warga hidup lebih dekat dengan segalanya, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor. Paris, Barcelona, Milan, hingga Melbourne mulai mengadaptasi konsep ini dalam berbagai bentuk.
Namun, gelombang kritik justru datang dari arah yang tak terduga, bukan hanya dari perencana kota atau pakar kebijakan, tapi juga dari kelompok masyarakat yang mencurigai agenda tersembunyi di balik konsep ini. Di media sosial dan forum-forum online, teori konspirasi bermunculan dengan cepat. Beberapa netizen bahkan menyebut bahwa rencana kota 15 menit hanyalah dalih pemerintah untuk mengontrol pergerakan warga, membatasi kebebasan, dan menciptakan zona-zona isolasi berbasis kode pos.
Baca juga: Debat Seru Jerinx SID VS dr Tirta, Bahas Realita Rumah Sakit dan Konspirasi Global
Jadi Alat Pengawasan Massal?
Salah satu isu yang memicu kemarahan publik adalah potensi surveillance atau pengawasan ketat dalam penerapan kota 15 menit. Wacana tentang pembatasan kendaraan di beberapa kawasan dan pemberlakuan sistem izin untuk bepergian ke luar zona “15 menit” disebut-sebut sebagai langkah awal menuju masyarakat yang sepenuhnya dikontrol oleh teknologi dan sistem algoritmik.
Protes besar terjadi di Inggris, tepatnya di Oxford. Ribuan warga turun ke jalan, mengecam proyek traffic filter yang akan diberlakukan untuk mengurangi lalu lintas kendaraan pribadi. Para demonstran membawa poster bertuliskan “We are not lab rats!” dan “Say No to Digital ID!” menuding kebijakan itu sebagai awal dari “kontrol total” terhadap kehidupan masyarakat.
Narasi yang Dibumbui Teori Konspirasi Lama
Menariknya, teori konspirasi tentang kota 15 menit ternyata punya kemiripan akar dengan narasi “Great Reset” yang sempat mencuat di masa pandemi COVID-19, sama-sama dipenuhi kecurigaan terhadap kontrol sosial dan agenda tersembunyi dari elite global. Beberapa kelompok ekstrem menyatakan bahwa pemerintah dunia bekerja sama dengan organisasi global seperti World Economic Forum (WEF) untuk menciptakan tatanan baru yang sepenuhnya terkendali.
Mereka mengaitkan kota 15 menit dengan rencana jangka panjang untuk memaksa warga tinggal di zona tertentu, dengan pembatasan digital, pelacakan biometrik, dan sistem kredit sosial ala China. Narasi ini semakin kuat ketika disebarkan lewat influencer dan tokoh sayap kanan yang memiliki jutaan pengikut.
Kota Pintar: Solusi atau Ilusi?
Di sisi lain, banyak pakar tata kota dan arsitek urban menegaskan bahwa konsep kota 15 menit bukanlah bentuk pembatasan, melainkan justru bertujuan memperluas akses warga terhadap layanan dan kebutuhan sehari-hari dalam jarak yang lebih dekat dan mudah dijangkau. Carlos Moreno sendiri mengecam keras teori konspirasi tersebut, menyebutnya sebagai distorsi yang berbahaya dari upaya menciptakan kota yang lebih manusiawi.
Ia menegaskan bahwa konsep ini tidak mengandung unsur paksaan, melainkan menawarkan pilihan hidup yang lebih praktis dan terjangkau bagi masyarakat. Sebaliknya, kota 15 menit memberi pilihan bagi warga untuk tidak tergantung pada kendaraan dan hidup lebih dekat dengan komunitas. Namun, sayangnya, narasi itu kalah cepat dari rumor-rumor liar yang menyebar secara viral.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ABC.net