Ilustrasi orang yang manipulatif (Pixabay/selimaksan)
INDOZONE.ID - Banyak yang berpikir kecerdasan bisa jadi tameng dari penipuan digital. Nyatanya, social engineering atau manipulatif justru menyasar kelemahan manusiawi yang tak ada hubungannya dengan IQ yang diserang bukan otak, tapi perasaan.
Biasanya mereka main di Level Emosi dimana pelaku memanfaatkan rasa takut, panik, atau kepedulian. Bisa aja datang lewat email sok-sokan dari atasan, atau pesan yang ngasih ancaman pemblokiran akun.
Bahkan orang paling rasional bisa terpancing saat dihadapkan pada tekanan waktu atau rasa tanggung jawab.
Baca juga: Kulit Kusam dan Jerawat Membandel? Solusinya Ada di Satu Bahan Skincare Ini!
Orang pintar sering merasa dirinya tak mungkin tertipu. Justru ini yang jadi celah. Rasa yakin berlebihan bikin mereka mengabaikan sinyal bahaya, karena merasa sudah tahu segalanya.
Baca juga: 10 Tips Mencegah Diabetes Gestasional saat Hamil ala Dokter Kandungan, Bumil Wajib Tau!
Kini, penipuan tak lagi frontal. Banyak yang datang lewat cara halus dengan cara menyamar jadi petugas resmi, meniru gaya bahasa rekan kerja, bahkan memalsukan suara. Tanpa kehati-hatian, siapa pun bisa terkecoh.
Kuncinya bukan sekadar pintar, tapi juga waspada. Selalu verifikasi sumber informasi, jangan buru-buru ambil keputusan, dan biasakan cek dua kali. Dunia digital butuh kewaspadaan lebih dari sekadar logika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Purplesec.us