Ilustrasi anak main game online. (Freepik)
INDOZONE.ID - Anak-anak rentan jadi korban predator online. Hal ini jelas bahaya buat mereka dan harus dilindungi.
Pada tahun 2023, laporan eksploitasi anak secara online yang diterima oleh National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) melalui Cyber Tip Line meningkat lebih dari 12%, melebihi 36,2 juta laporan.
“Dulu, predator anak-anak adalah orang yang mengendarai mobil dan gelagatnya mencurigakan, keliling dekat sekolah menawarkan permen kepada anak-anak,” kata Letnan Polisi Negara Bagian New Jersey, Paul Sciortino, kepada ABC News.
Tapi sekarang, internet jadi modal predator yang mengincar anak-anak. Karena mereka sudah sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk bermain gadget.
Dalam game online misalnya, di fitur chat bisa saja anak-anak mendapati predator tersebut. Sayangnya, banyak orang tua kurang aware atau bahkan anak-anak yang abai.
Baca juga: Parenting Gen Z: Manfaatin AI Buat Tahu Cita-cita Anak di Masa Depan
Titania Jordan dari Bark, aplikasi yang bantu orang tua memantau aktivitas digital anak mengungkapkan, ada sekitar 500 ribu predator yang aktif online setiap saat. Banyak anak-anak online sampai 8 jam sehari tanpa pengawasan, dan itu bikin mereka rentan.
Bark sendiri pakai AI buat mendeteksi sinyal bahaya dari teks, medsos, email, sampai riwayat pencarian. Tapi tetap aja, Jordan bilang banyak platform besar seperti media sosial belum cukup bertanggung jawab atas apa yang terjadi di platform mereka.
“Mereka tahu bahwa internet adalah taman bermain luas bagi anak-anak yang online selama lebih dari 8 jam sehari, kebanyakan tanpa pengawasan, tanpa filter, dan tanpa batasan,” kata Jordan.
Bos dari TikTok, Meta, X (dulu Twitter), Snapchat, dan Discord dipanggil karena dianggap gagal melindungi anak-anak dari eksploitasi online. Mark Zuckerberg dari Meta minta maaf, dan perusahaan-perusahaan itu mengklaim mereka udah bikin fitur baru untuk lindungi remaja, seperti filter kontak, tools pemblokiran, dan peringatan dalam aplikasi.
“Saya minta maaf atas semua yang telah kalian alami. Kami akan terus melakukan upaya lintas industri agar tidak ada lagi yang harus mengalami hal serupa,” ucap CEO Meta Mark Zuckerberg.
Tapi menurut para ahli, semua itu belum cukup. Banyak kontrol orang tua yang disediakan hanya bersifat permukaan dan nggak benar-benar memberi gambaran utuh tentang apa yang anak lakukan online.
Jordan bilang, soal internet dan media sosial, seringnya orang tua malah biarin anak-anak jalan sendiri tanpa cukup arahan. Padahal, dunia digital itu bisa seganas dunia nyata.
Baca juga: Lagi Marak, Ini Kiat Lindungi Anak dari 'Predator Online'
Sadar Risiko: Internet bukan cuma tempat seru, tapi juga penuh jebakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ABC News