Ilustrasi berada di bawah tekanan. (freepik)
INDOZONE.ID - Dalam hidup, setiap orang pasti pernah menghadapi situasi penuh tekanan, entah karena tenggat waktu yang menumpuk, masalah tak terduga, atau beban pekerjaan yang terasa berat.
Namun, pernahkah kamu berpikir mengapa ada orang yang tetap tenang di tengah kekacauan sementara yang lain mudah panik?
Berikut cara melatih otak agar tenang dan lebih siap menghadapi berbagai tekanan hidup, termasuk saat kamu berhadapan dengan stres kerja yang melelahkan.
Baca juga: 5 Peluang Kerja Sampingan dari Rumah yang Cocok untuk Pekerja Remote, Yuk Cobain!
Ilustrasi stres kerja. (freepik)
Saat stres datang, tubuh kita bereaksi secara spontan, seperti detak jantung meningkat, napas menjadi pendek, dan pikiran terasa kacau. Salah satu tips tetap tenang di bawah tekanan yang paling efektif adalah melatih pernapasan dalam.
Cobalah teknik box breathing atau tarik napas selama empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik, lalu tahan lagi empat detik. Pola napas ini membantu menenangkan sistem saraf dan menurunkan kadar hormon stres dalam tubuh.
Lakukan latihan ini setiap hari, bahkan hanya selama beberapa menit. Kamu bisa menerapkannya saat menghadapi stres kerja, berada di tengah kemacetan, atau sebelum rapat penting.
Penyebab utama stres sering kali berasal dari terlalu memikirkan masa depan atau menyesali masa lalu. Kunci dari cara melatih otak agar tenang adalah dengan tetap hadir di saat ini.
Praktikkan mindfulness, contohnya fokus pada napas, suara di sekitar, atau sensasi tubuhmu. Dengan berada di “saat ini”, pikiranmu menjadi lebih jernih dan tidak mudah terombang-ambing oleh kekhawatiran.
Kebiasaan ini sangat bermanfaat untuk mengatasi stres kerja, karena membantu kamu tetap fokus dan berpikir rasional saat menghadapi tekanan di tempat kerja.
Ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana, pikiran kita mudah terperangkap dalam hal-hal negatif. Namun, kamu bisa melatih otak untuk melihat sisi positif dari setiap situasi.
Lihatlah tekanan sebagai peluang untuk tumbuh, bukan sebagai beban. Pendekatan ini disebut cognitive reframing, yaitu mengubah cara berpikir agar lebih konstruktif.
Misalnya, daripada berpikir “Aku gagal,” ubah menjadi “Aku sedang belajar untuk menjadi lebih baik.” Dengan cara ini, kamu akan lebih tenang dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi stres kerja atau tekanan dari lingkungan sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Timesofindia.indiatimes.com