Pendiri sekaligus Ketua HCC, Dr. Ray Wagiu Basrowi. (Indozone/Dewi)
INDOZONE.ID - Kalau biasanya yang ramai di sekolah adalah soal bullying, tawuran, atau curhat tentang stres dan kecemasan, kali ini ada yang beda nih. Sebuah program unik dari Health Collaborative Center (HCC) justru ngajak anak-anak SMA buat fokus pada kebaikan.
Pendiri sekaligus Ketua HCC, Dr. Ray Wagiu Basrowi mengajak untuk Cek Teman Sebelah. Hari ini, Rabu (12/11/2025), ia berkunjung ke SMK PKP 1 DKI Jakarta di kawasan Ciracas, Cibubur.
Kata dr Ray, kegiatan ini jadi bagian dari Fun Prosocial Framework atau hasil riset tentang perilaku prososial remaja di Jakarta. Menurut penelitian HCC tahun 2024, anak SMA di Jakarta ternyata punya indeks kebaikan yang tinggi alias jiwanya prososial banget.
Sayangnya, promosi kesehatan mental di sekolah selama ini lebih banyak fokus pada hal-hal negatif yakni depresi, kecemasan, atau tawuran.
“Akibatnya, kemampuan prososial mereka malah nggak terasah. Dan kami melakukan intervensi lewat metode tootling atau melaporkan kebaikan teman ke guru atau bahkan teman dekatnya dan menariknya riset membuktikan kalau metode ini bisa meningkatkan empati remaja hingga 8 kali lipat,” ungkap dr. Ray.
Baca juga: Viral! Anak Bully Asisten Rumah Tangga hingga Kabur, Reaksi Tegas Sang Ibu Tuai Pujian
Sebelumnya kegiatan ini jadi bagian dari eksperimen sosial bareng 1.000 pelajar di Jakarta Timur, di bawah jangkauan Puskesmas Ciracas. Tim peneliti melacak perubahan perilaku jangka panjang dan membudayakan fokus pada kebaikan.
“Kita mau ubah pola pikir bahwa perhatian bukan cuma muncul karena kesalahan. Sekarang kita balik, perhatian sejati lahir dari apresiasi dan kebaikan,” ucapnya.
Selama program berlangsung, para siswa diajak untuk mengamati kebaikan teman, sekecil apapun, menulis di kertas khusus, menempel catatan itu di “Papan Kebaikan” sekolah, serta melaporkan sebanyak mungkin kebaikan setiap hari.
Kedengarannya sederhana, tapi dampaknya besar. Dari kebiasaan kecil itu, budaya empati, kerja sama, dan solidaritas bisa tumbuh di sekolah.
Baca juga: HAN 2025: Cara Mendidik Anak Biar Gak Jadi Tukang Bully, Orangtua Wajib Baca
Menurut Dr. Ray dan Koordinator Program Bunga Pelangi, perilaku prososial ini gak cuma bantu orang lain, tapi juga tentang menjaga kesehatan jiwa bersama.
“Waktu remaja belajar menghargai kebaikan, mereka juga sedang melatih otak sosialnya untuk berempati, mengurangi stres, dan meningkatkan kebahagiaan,” jelasnya.
Di sisi lain, ada juga berbagai riset pun mendukung hal ini. Perilaku prososial bisa Meningkatkan kebahagiaan dan rasa percaya diri, memperkuat persahabatan, menurunkan kesepian, stres, dan kecemasan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan