INDOZONE.ID - Indonesia memproduksi jutaan ton sampah setiap tahunnya, sementara banyak daerah masih bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir yang kapasitasnya kian menipis.
Kondisi inilah yang mendorong perhatian Ali Hadji, seorang profesional internasional yang dalam beberapa tahun terakhir aktif membangun kerja sama di Indonesia.
Ali Hadji merupakan bagian dari jaringan JTA Holding Qatar, namun perannya di Indonesia lebih dari sekadar penjajakan bisnis. Ia melihat bahwa pengelolaan sampah bukan hanyaurusan infrastruktur, tetapi juga masa depan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.
Baca juga: RSBS Hidupkan Kembali Batik Cap Singhasari Lewat Tradisi Reboan
Dalam beberapa tahun terakhir, Ali Hadji menunjukkan kepedulian besar terhadap isu pengelolaan sampah yang diyakininya memiliki konsekuensi sosial dan lingkungan yang kompleks.
Upayanya menjaga komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan mencerminkan bahwa ia tidak memandang Indonesia hanya sebagai pasar, melainkan sebagai mitra yang perlu berkembang secara beriringan.
"Indonesia memiliki masa depan yang sangat besar. Dan masa depan itu dimulai dari bagaimana kita menjagalingkungan hari ini," ujar Ali Hadji di Jakarta.
Berbekal pengalaman kolaborasi lintas negara, Ali Hadji kinimemusatkan perhatian pada sektor lingkungan, khususnyawaste management. Ia percaya bahwa Indonesia memilikipotensi besar untuk memimpin inovasi pengelolaan sampah di Asia Tenggara.
Melalui Nikoil Indonesia, ia mengenalkan sistem general waste processing yang dapat diintegrasikan dengan teknologi Waste-to-Energy.
Namun ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah sarana pendukung untuk meraih tujuan yang lebih besar: menciptakan lingkungan yang lebih bersih serta kota yang lebih nyaman dan layak dihuni.
Untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai tantangan di setiap daerah, Ali Hadji mengadakan sejumlah pertemuan dan diskusi dengan pemerintah kota, termasuk Madiun dan Makassar.
Baca juga: 5 Alasan Utama Kenapa Kamu Harus Beralih ke Air Fryer Sekarang!
Ia berupaya memahami kebutuhan unik masing-masing wilayah, mulai dari kondisi TPA, pola pemilahan sampah, hingga kemampuan sumber daya manusianya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan