INDOZONE.ID - Sekarang kita hidup di era “yang penting real”. Banyak orang bangga share everything supaya terlihat apa adanya, bukan fake.
Tapi kejujuran yang disampaikan ke orang yang salah bisa berubah jadi sesuatu yang bikin penerima merasa tidak nyaman, suasana jadi canggung, dan kita sendiri menyesal pada akhirnya.
Hal ini punya nama: oversharing. Dan sering kali, bukannya bikin dekat, malah bikin orang ingin mundur pelan-pelan seperti jeruk tadi.
Saat sedang emosional — marah, senang, gugup, atau kecewa — otak sosial kita seperti dimatikan sementara. Filter yang biasanya menahan kata-kata hilang begitu saja.
Baca juga: Ketika Seseorang yang Kamu Anggap Sahabat Tidak Lagi Sahabatmu, Bagaimana Cara Pulihnya?
Secara naluriah, manusia memang butuh berbagi cerita untuk merasa terhubung. Bedanya, dulu ruang sosial kita hanya sebatas keluarga atau lingkaran kecil.
Sekarang? Bisa ke satu ruangan atau justru di dunia internet. Maka dari itu, hal yang seharusnya personal kadang keluar begitu saja dan terdengar oleh orang yang bahkan tidak tahu nama kita.
Jawabannya simpel: pause dulu sebelum bicara. Ada beberapa panduan kecil, yaitu:
Baca juga: Buku-Bukunya Rusak Diterjang Banjir, Cewek Ini Tercengang Lihat Al-Qur'an Tetap Utuh
Dan aturan sederhananya adalah: kalau Kamu sudah merasa ragu menceritakannya di depan orang tua atau anggota keluarga lain, itu artinya masalahmu bukan bahan konsumsi publik — kecuali menceritakannya dengan seorang konselor atau psikolog.
Kadang kita tidak meminta, tapi tiba-tiba diseret ke sesi curhat dadakan. Dalam situasi ini, yang bisa Kamu lakukan adalah:
Baca juga: Benarkah Makan Ikan Bikin Anak Lebih Pintar? Ini Penjelasan Ahlinya
Ingat, mendengarkan itu baik, tapi bukan berarti Kamu harus menanggung semua penderitaan orang lain.
Bercerita itu salah satu cara membangun kedekatan. Tapi seperti bumbu masak, takarannya menentukan hasilnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com