Ilustrasi Puisi Singkat tentang Duka Bencana Alam. (Foto: Freepik @Freepik)
INDOZONE.ID - Desember sering datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ada lampu-lampu perayaan, libur panjang, dan harapan baru.
Tapi di sisi lain, akhir tahun juga kerap membawa kabar duka. Banjir, longsor, gempa, hingga angin kencang seperti menjadi tamu yang datang tanpa diundang.
Saat sebagian orang sibuk merencanakan liburan, ada saudara-saudara kita yang justru kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan.
Puisi singkat kerap menjadi cara paling jujur untuk menyampaikan rasa. Tidak berisik, tapi menghantam pelan ke hati.
Di tengah hiruk pikuk akhir tahun, tujuh puisi singkat ini hadir sebagai pengingat, Desember bukan hanya tentang perayaan, tapi juga tentang empati dan doa.
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Akhir Tahun yang Menyentuh Hati
Ilustrasi Puisi Singkat tentang Duka Bencana Alam. (Foto: Freepik @Freepik)
Hujan turun seperti biasa
tapi kali ini membawa air mata
rumah hanyut, kenangan runtuh
Desember basah oleh duka yang tak sempat pamit
Tanah bergerak tanpa aba-aba
menelan cerita dan harapan
kami memanggil nama dalam sunyi
namun yang tersisa hanya gema dan debu
Tahun hampir berganti
tapi kami masih menghitung kehilangan
di tenda-tenda tipis
kami belajar bertahan sambil menahan rindu rumah
Langit cerah setelah badai
namun hati kami masih gelap
nama-nama itu hilang terbawa arus
tinggal doa yang terus kami kirim ke langit
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Maaf: Kata-kata Ringkas Tapi Ngena di Hati
Ilustrasi Puisi Singkat tentang Duka Bencana Alam. (Foto: Freepik @Freepik)
Api membakar, air menenggelamkan
alam bicara dengan caranya sendiri
manusia hanya bisa terdiam
belajar kecil di hadapan semesta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ide Penulis