INDOZONE.ID - Memulai sebuah kebaikan seringkali terasa ringan dan penuh semangat, namun mempertahankannya adalah ujian yang sesungguhnya. Banyak dari kita yang mampu beribadah dengan giat di bulan Ramadan, namun semangat itu luntur seketika bulan berganti.
Fenomena "pasang surut" iman ini adalah hal yang manusiawi, namun Islam menawarkan sebuah konsep agung untuk menjaga kestabilan hati dan amal, yaitu istiqomah. Lantas, apa sebenarnya hakikat dari keteguhan ini? Artikel ini akan mengupas tuntas bahwa istiqomah adalah bukan sekadar tentang durasi, melainkan tentang komitmen hati untuk tetap berada di jalan yang lurus, apapun kondisi yang menerpa.
Untuk memahami konsep ini secara utuh, kita perlu menelusuri akarnya. Secara etimologi atau bahasa, istiqomah berasal dari kata bahasa Arab istaqāma–yastaqīmu–istiqāmah (استقام – يستقيم – استقامة) yang berarti tegak lurus, berdiri kokoh, atau tidak menyimpang. Makna harfiahnya adalah tegak lurus, lurus, atau tidak miring ke kanan maupun ke kiri.
Secara terminologi atau istilah dalam agama Islam, istiqomah adalah sikap teguh pendirian dan konsisten dalam memegang tauhid serta melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Ia mencakup pelaksanaan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya secara terus-menerus hingga akhir hayat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Ini menunjukkan bahwa istiqomah bukan hanya soal ibadah ritual, melainkan karakter mental yang kuat.
Para ulama memiliki definisi yang kaya mengenai hal ini. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa istiqomah adalah mencintai Allah dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kepada selain-Nya. Sementara itu, Umar bin Khattab RA mendefinisikan istiqomah dengan kalimat yang sangat tegas: "Istiqomah adalah lurus dalam perintah dan larangan, tidak berbelok-belok seperti berbeloknya musang."
Landasan utama perintah istiqomah terdapat dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Fussilat ayat 30:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (QS. Fussilat: 30)
Selain itu, dalam sebuah hadits riwayat Muslim, seorang sahabat bernama Sufyan bin Abdullah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: "Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang lain selain engkau." Rasulullah SAW bersabda: "Katakanlah: 'Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqomahlah."
Baca juga: Tips Istiqomah Beribadah yang Dianjurkan Rasulullah, Niat dan Komitmen Hanya Kepada Allah
Dalam penulisan bahasa Indonesia, sering terjadi variasi antara "Istiqomah" dan "Istiqamah". Manakah yang benar?
Secara transliterasi Arab-Latin yang baku, penulisan yang tepat adalah Istiqāmah (dengan garis di atas 'a' untuk menunjukkan bacaan panjang/mad). Namun, dalam penyerapan ke Bahasa Indonesia yang umum dan tercatat di KBBI, kata ini ditulis sebagai istikamah.
Meskipun demikian, dalam percakapan sehari-hari dan pencarian populer di internet, masyarakat Indonesia lebih sering menggunakan ejaan Istiqomah. Keduanya merujuk pada makna yang sama: keteguhan hati di jalan yang lurus.
Seringkali kata istiqomah disamakan dengan kata "konsisten" dalam bahasa umum. Apakah keduanya sama? Jawabannya: serupa tapi tak sama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: KBBI, Al-Islam.org