Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 11 MARET 2026 • 13:15 WIB

Mengenal Fenomena Working Poor: Kerja Terus-menerus tapi Gak Kaya-Kaya

Mengenal Fenomena Working Poor: Kerja Terus-menerus tapi Gak Kaya-KayaIlustrasi fenomena working poor. (Freepik)

INDOZONE.ID - Fenomena working poor atau pekerja yang tetap miskin menjadi salah satu persoalan sosial yang semakin sering dibahas di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilannya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Kondisi ini menunjukkan bahwa memiliki pekerjaan tidak selalu menjamin seseorang terbebas dari kemiskinan. Bahkan di Indonesia sekarang, sebagian masyarakat tetap hidup dalam kemiskinan meskipun mereka bekerja setiap hari.

Baca juga: Tiba-Tiba Hilang Tanpa Kabar? Ini Alasan Psikologis di Balik Fenomena Ghosting

Apa Itu Working Poor?

Working poor adalah pekerja yang penghasilannya berada di bawah garis kemiskinan. 

Organisasi buruh internasional menyebut kelompok ini sebagai orang yang bekerja namun tetap hidup dalam rumah tangga dengan pendapatan di bawah standar kemiskinan yang ditetapkan secara nasional atau internasional.

Dengan kata lain, meskipun seseorang memiliki pekerjaan dan aktif dalam dunia kerja, pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk mengangkat dirinya dan keluarganya keluar dari kemiskinan.

Konsep ini juga digunakan untuk mengukur hubungan antara kondisi pekerjaan dan tingkat kemiskinan dalam suatu negara.

Penyebab Fenomena Working Poor

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tetap miskin meskipun sudah bekerja:

1. Upah yang Rendah

Banyak pekerjaan menawarkan upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup. Pendapatan yang rendah membuat pekerja sulit memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidika.

2. Kualitas Pekerjaan yang Rendah

Sebagian pekerja hanya mendapatkan pekerjaan dengan produktivitas rendah, jam kerja tidak stabil, atau tanpa jaminan kerja. Hal ini membuat pendapatan mereka tidak menentu.

3. Tingginya Biaya Hidup

Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya perumahan, dan layanan kesehatan sering kali lebih cepat dibandingkan peningkatan upah pekerja.

4. Minimnya Perlindungan Sosial

Tidak semua pekerja memiliki akses terhadap jaminan kesehatan, asuransi kerja, atau program perlindungan sosial yang dapat membantu ketika terjadi krisis ekonomi.

5. Pendidikan dan Keterampilan yang Terbatas

Pekerja dengan tingkat pendidikan dan keterampilan rendah biasanya memiliki akses terbatas terhadap pekerjaan dengan upah yang lebih tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ilostat.ilo.org

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Fenomena Working Poor: Kerja Terus-menerus tapi Gak Kaya-Kaya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!