Ilustrasi screen time anak. (Freepik)
INDOZONE.ID - Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa interaksi anak dengan layar ponsel membawa dampak buruk. Di sisi lain, penggunaan perangkat digital kerap dianggap sebagai solusi praktis untuk menenangkan anak.
Faktanya, interaksi anak dengan layar terbagi dalam dua kondisi, yaitu dengan pengawasan orang tua dan tanpa pengawasan. Berdasarkan artikel ilmiah berjudul “Impact of Screen Time on Development of Children”, penggunaan layar seperti ponsel, laptop, komputer, televisi, dan konsol gim dapat memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung pada durasi, jenis konten, serta konteks penggunaannya. Namun, durasi yang berlebihan cenderung lebih banyak menimbulkan dampak negatif.
Pada aspek kognitif, paparan konten dengan tempo cepat, seperti gim aksi, dapat memengaruhi kemampuan fokus anak. Anak yang terbiasa dengan stimulasi cepat cenderung lebih sulit mempertahankan perhatian dalam jangka panjang.
Selain itu, penggunaan layar berlebihan juga dapat memengaruhi kemampuan perencanaan dan pengendalian diri. Sebaliknya, penggunaan layar dengan konten edukatif, seperti aplikasi interaktif berbasis cerita atau pemecahan masalah, dapat membantu meningkatkan daya ingat dan kemampuan berpikir.
Penggunaan layar tanpa diimbangi interaksi langsung berpotensi menghambat kemampuan anak dalam berkomunikasi dan memahami emosi. Anak dapat mengalami kesulitan membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, hingga membangun empati.
Paparan konten digital juga dapat memengaruhi persepsi anak terhadap diri sendiri, terutama jika membandingkan dengan gambaran ideal yang sering muncul di layar.
Baca juga: Benarkah Screen Time Berlebihan Bisa Akibatkan Obesitas pada Anak? Ini Penjelasannya
Penggunaan layar yang tinggi umumnya berbanding lurus dengan rendahnya aktivitas gerak. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko obesitas, terutama jika disertai pola makan yang tidak sehat.
Paparan cahaya layar juga dapat mengganggu produksi melatonin, sehingga memengaruhi kualitas tidur anak. Selain itu, penggunaan berlebihan berpotensi berdampak pada kesehatan mata.
Penggunaan layar secara pasif, seperti menonton televisi tanpa interaksi, dapat menghambat kemampuan komunikasi. Minimnya percakapan langsung membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kosakata dan struktur bahasa.
Penggunaan layar berlebihan yang mengurangi waktu tidur dan aktivitas fisik dapat berdampak pada daya ingat dan konsentrasi. Namun, beberapa jenis gim berbasis logika dan pemecahan masalah juga dilaporkan dapat memberikan efek positif pada kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan.
Sejumlah pedoman pediatrik menyarankan pembatasan durasi penggunaan layar pada anak. Anak di bawah usia 2 tahun disarankan tidak terpapar layar, usia 2–5 tahun maksimal 1 jam per hari, dan di atas 5 tahun sekitar 2 jam per hari.
Penggunaan perangkat digital sebagai alat untuk menenangkan anak saat emosi juga menjadi perhatian. Rekomendasi dari American Academy of Child & Adolescent Psychiatry menyebutkan bahwa kebiasaan ini berpotensi memengaruhi kemampuan anak dalam mengelola emosi di kemudian hari.
Temuan dari University of Utah Health juga menunjukkan bahwa anak usia 2–5 tahun yang terbiasa menggunakan perangkat elektronik untuk meredakan emosi cenderung memiliki kemampuan pengendalian amarah yang lebih rendah pada tahun berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aacap.org