Ilustrasi. Seorang wanita membaca Al-Quran. (Freepik)
INDOZONE.ID - Sebagai fondasi utama dalam sistem penulisan bahasa Arab dan bahasa pengantar kitab suci Al-Qur'an, abjad atau huruf Hijaiyah menjadi gerbang pertama bagi siapa pun yang ingin mendalami ajaran Islam maupun literatur Timur Tengah. Memahami dasar-dasar baca tulis aksara Arab bukanlah sekadar rutinitas akademis yang dihafal, melainkan sebuah perjalanan untuk meresapi makna filosofis di balik setiap bunyi dan goresan tinta.
Bagi masyarakat Indonesia, pengenalan terhadap aksara ini umumnya dimulai sejak usia dini melalui metode Iqra atau Qiroati. Namun, masih banyak pembaca umum yang membutuhkan pemahaman komprehensif mengenai struktur linguistik aksara ini. Artikel ini akan mengupas tuntas pengertian dasar, rincian susunan aksara, sistem tanda baca, hingga panduan cara membacanya secara terstruktur, historis, dan mudah dipahami.
Secara etimologis, istilah "hijaiyah" berasal dari kata bahasa Arab hajjaa-yuhajjii-tahjiyatan, yang memiliki arti mengeja, menyusun, atau ejaan. Huruf hijaiyah adalah sistem abjad atau aksara dasar yang digunakan untuk membentuk kata dan kalimat dalam bahasa Arab. Secara historis, aksara ini merupakan hasil evolusi panjang dari rumpun bahasa Semit, yang memiliki kekerabatan linguistik dengan aksara Aramaik dan Nabatea yang telah digunakan berabad-abad sebelum era pra-Islam di Jazirah Arab.
Dalam kajian ilmu tajwid dan linguistik Arab, sering kali muncul pertanyaan di kalangan pemula: huruf hijaiyah ada berapa? Para ulama dan ahli bahasa memiliki pandangan yang sedikit bervariasi terkait jumlah huruf hijaiyah. Sebagian ahli bahasa menyebutkan jumlahnya ada 28 huruf tanpa menyertakan Hamzah dan Lam-Alif, sementara sebagian ulama tajwid menyebutkan ada 29 huruf dengan memisahkan Alif dan Hamzah.
Namun, dalam sistem pedagogik atau metode pengajaran membaca Al-Qur'an yang populer diterapkan di Indonesia, jumlah yang diajarkan secara umum adalah 30 huruf. Susunan 30 huruf ini memasukkan Lam-Alif (gabungan dari huruf Lam dan Alif) serta Hamzah berdiri sendiri, untuk memudahkan para pelajar pemula dalam mengeja dan mengenali bentuk visual aksara saat merangkai kata. Memahami variasi jumlah ini sangat penting agar tidak terjadi kebingungan saat mempelajari literatur bahasa Arab yang berbeda.
Baca juga: Keren! Dua Bersaudara di Kota Parepare Masuk Nominasi Penghafal Alquran, Rutin Mengaji Setiap Pagi
Setiap aksara dalam sistem hijaiyah mewakili bunyi konsonan yang spesifik. Cara membaca huruf-huruf ini sangat bergantung pada titik artikulasi atau letak keluarnya suara (Makharijul Huruf), seperti dari tenggorokan, rongga mulut, lidah, hingga bibir. Berikut adalah tabel rincian susunan 30 abjad Arab beserta transliterasi Latinnya untuk mempermudah pembacaan.
| No | Bentuk Huruf | Nama Huruf | Transliterasi / Cara Membaca |
| 1 | ا | Alif | Tidak memiliki bunyi konsonan pasti (sering menjadi vokal panjang) |
| 2 | ب | Ba | B (seperti pada kata "batu") |
| 3 | ت | Ta | T (seperti pada kata "tali") |
| 4 | ث | Tsa | Ts (meletakkan ujung lidah di antara gigi seri atas dan bawah) |
| 5 | ج | Jim | J (seperti pada kata "jari") |
| 6 | ح | Ha | H bersih (suara keluar dari tengah tenggorokan tanpa hambatan) |
| 7 | خ | Kha | Kh (suara serak dari tenggorokan bagian atas) |
| 8 | د | Dal | D (seperti pada kata "dada") |
| 9 | ذ | Dzal | Dz (ujung lidah bertemu ujung gigi seri atas) |
| 10 | ر | Ra | R (seperti pada kata "rasa") |
| 11 | ز | Zai | Z (seperti pada kata "zaman") |
| 12 | س | Sin | S (seperti pada kata "satu") |
| 13 | ش | Syin | Sy (seperti pada kata "syarat") |
| 14 | ص | Shad | Sh (suara S yang tebal dengan mengangkat pangkal lidah) |
| 15 | ض | Dhad | Dh (sisi lidah menyentuh geraham atas, suara tebal) |
| 16 | ط | Tha | Th (suara T yang tebal dan berat) |
| 17 | ظ | Zha | Zh (suara Dz yang tebal) |
| 18 | ع | 'Ain | 'A (suara keluar dari tengah tenggorokan, ditekan) |
| 19 | غ | Ghain | Gh (mirip suara orang berkumur) |
| 20 | ف | Fa | F (gigi seri atas menempel pada bibir bawah bagian dalam) |
| 21 | ق | Qaf | Q (suara kental dari pangkal lidah dekat tenggorokan) |
| 22 | ك | Kaf | K (seperti pada kata "kaca", disertai sedikit embusan napas) |
| 23 | ل | Lam | L (seperti pada kata "lama") |
| 24 | م | Mim | M (seperti pada kata "mata") |
| 25 | ن | Nun | N (seperti pada kata "nama") |
| 26 | و | Wawu | W (seperti pada kata "waktu") |
| 27 | هـ | Ha | H (suara H keluar dari pangkal tenggorokan/dada) |
| 28 | لا | Lam-Alif | La (Gabungan huruf Lam dan Alif) |
| 29 | ء | Hamzah | ' (Bunyi sentakan atau glottal stop) |
| 30 | ي | Ya | Y (seperti pada kata "yakin") |
Sistem penulisan Arab pada dasarnya adalah sistem abjad murni, yang berarti simbol-simbol huruf utamanya hanya mewakili konsonan. Agar konsonan tersebut dapat dibaca dan menghasilkan bunyi vokal, diperlukan sistem tanda baca yang disebut dengan Harakat. Kehadiran harakat sangat krusial, sebab kesalahan dalam memberikan harakat dapat mengubah total makna sebuah kata dalam bahasa Arab.
Berikut adalah jenis-jenis harakat utama yang wajib dikuasai:
Menulis aksara Arab memiliki kaidah tipografi dan kaligrafi yang sangat berbeda dengan aksara Latin. Karakteristik utama yang harus dipahami adalah arah penulisannya. Huruf Arab selalu ditulis dan dibaca dari arah kanan ke kiri. Selain itu, sistem penulisannya bersifat kursif atau menyambung antarhuruf dalam satu kata.
Setiap aksara memiliki bentuk visual yang dapat berubah-ubah, bergantung pada posisinya di dalam sebuah kata:
Hal krusial lain dalam panduan menulis abjad ini adalah keberadaan enam abjad yang "egois" atau tidak bisa disambung dengan aksara setelahnya. Keenam abjad tersebut adalah: Alif (ا), Dal (د), Dzal (ذ), Ra (ر), Zai (ز), dan Wawu (و). Jika ada aksara yang letaknya setelah keenam abjad ini, maka aksara tersebut harus ditulis terpisah.
Investasi pendidikan dengan mengajarkan aksara Arab sejak usia dini membawa dampak luar biasa bagi perkembangan kognitif dan spiritual anak. Para ahli pendidikan bahasa sepakat bahwa mengenalkan sistem aksara baru akan melatih kelenturan otak.
Prof. Dr. Mahmud Yunus, seorang tokoh pendidikan Islam terkemuka, dalam berbagai kajiannya selalu menekankan pentingnya penguasaan alat (bahasa) untuk memahami agama. Mempelajari aksara ini tidak hanya melatih fungsi motorik saat menulis dari kanan ke kiri yang merangsang keseimbangan otak, tetapi juga melatih ketepatan artikulasi vokal dan konsonan yang memperkaya kemampuan linguistik seseorang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber