Ilustrasi fenomena non-apology, permintaan maaf palsu. (freepik)
INDOZONE.ID - Kamu lagi serius ngomong dari hati, menjelaskan kenapa kamu sakit hati… tapi yang kamu dapat cuma, “Ya udah, maaf ya” — tanpa ekspresi, tanpa penyesalan.
Atau lebih parah: “Aku minta maaf kamu ngerasa gitu, tapi kan aku cuma bercanda.”
Kalau kamu pernah ngalamin ini, stop dulu. Itu bukan minta maaf. Itu cara halus buat kabur dari tanggung jawab.
Fenomena ini sering disebut sebagai non-apology — permintaan maaf yang cuma formalitas, tanpa niat memperbaiki apa pun. Kedengarannya sopan, tapi sebenarnya kosong. Bahkan kadang manipulatif.
Baca juga: Studi: Tak Mau Ketinggalan Gol, 82% Penonton Bola Andalkan Pesan Makanan Online
Kenapa? Karena fokusnya bukan pada kesalahan mereka, tapi justru memutar arah ke kamu.
Bukan: “Aku salah”, — tapi jadi “Kamu yang terlalu baper”.
Dan itu bahaya! Orang yang sering pakai “maaf, tapi…” biasanya nggak mau disalahkan, nggak nyaman dikritik, serta lebih peduli menjaga ego daripada perasaan kamu.
Kalimat “tapi…” itu jadi pembatal permintaan maaf. Jadi apapun yang ada sebelum “Tapi…” — pada dasarnya nggak ada artinya.
Baca juga: Kenali Perbedaan Introvert dan Pemalu agar Tidak Salah Menilai
Contoh klasiknya:
“Aku minta maaf kalau aku nyakitin kamu, tapi kamu juga terlalu sensitif.”
Dengar baik-baik: itu bukan minta maaf. Itu nyalahin kamu dengan cara yang lebih halus. Dan kalau ini terjadi terus-menerus, dampaknya nggak main-main.
Kamu bisa mulai meragukan perasaan sendiri, merasa overthinking atau terlalu sensitif, bahkan mulai menyalahkan diri sendiri atas hal yang bukan salahmu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline