Ilustrasi cara tidak baik untuk putus dengan pasangan. (freepik)
INDOZONE.ID - Memutuskan hubungan bukan perkara gampang. Banyak orang bertahan terlalu lama dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat hanya karena takut menyakiti pasangan.
Di sisi lain, ada juga yang memilih mengakhiri hubungan saat emosi sedang memuncak, lalu menyesal karena kata-kata yang terlanjur keluar terlalu tajam.
Ironisnya, yang paling sering diingat setelah putus bukan cuma alasan kenapa hubungan berakhir — tetapi juga bagaimana seseorang mengakhiri hubungan itu.
Ada orang yang berhasil move on dalam beberapa bulan, tapi masih ingat jelas kalimat menyakitkan dari mantannya bertahun-tahun kemudian.
Baca juga: Jangan Buru-Buru Putus! 3 Cara Ini Bisa Selamatkan Asmara yang Hampir Hancur
Kalimat seperti “Aku udah nggak cinta sama kamu,” atau “Aku malu punya pasangan kayak kamu” mungkin diucapkan dalam hitungan detik, tapi dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama.
Kalau memang hubungan harus selesai, ada cara yang lebih dewasa untuk menyampaikannya tanpa membuat luka emosional jadi semakin parah.
Saat hubungan dipenuhi konflik, rasa kesal yang menumpuk sering bikin seseorang ingin mengeluarkan semuanya saat momen putus tiba.
Mulai dari membahas kebiasaan pasangan yang menyebalkan, kekurangan fisik, kesalahan masa lalu, hingga membandingkan mereka dengan orang lain.
Sekilas mungkin terasa melegakan karena semua unek-unek akhirnya keluar. Tapi kenyataannya, hal itu justru membuat perpisahan berubah menjadi “medan perang”.
Putus hubungan seharusnya menjadi momen terakhir untuk bersama, bukan kesempatan terakhir untuk menghancurkan harga diri seseorang.
Ibarat keluar dari ruangan yang sudah tidak nyaman, kamu cukup membuka pintu lalu pergi — bukan membakar seluruh bangunannya.
Banyak orang memilih alasan aman seperti “Kamu terlalu baik buat aku” atau “Ini bukan salah kamu, ini salah aku.” — kalimat klise seperti itu justru sering membuat pasangan semakin bingung karena tidak memberi penjelasan yang jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline