Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 31 MARET 2025 • 07:45 WIB

Tren Kencan Baru Gen Z, Apa Itu Floodlighting?

Tren Kencan Baru Gen Z, Apa Itu Floodlighting?Ilustrasi kencan. (freepik.com)

INDOZONE.ID - Belakangan ini, istilah "floodlighting" ramai dibicarakan di TikTok sebagai tren baru dalam dunia kencan. Tren kencan floodlighting ini semakin populer di kalangan Gen Z yang sering mencari koneksi instan dalam hubungan.

Istilah ini awalnya diperkenalkan oleh Brené Brown untuk menggambarkan situasi di mana seseorang membanjiri orang lain dengan kerentanan secara berlebihan.

Sayangnya, meskipun terlihat seperti cara untuk cepat akrab, justru bisa membuat orang lain merasa kewalahan dan menjauh. Lalu, apa itu kencan floodlighting, dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan?

Berikut adalah tiga tanda kalau kamu melakukan floodlighting dalam hubungan dan cara menghindarinya.

Baca Juga: 15 Ide Kencan Romantis untuk Memikat Hati Pisces

Arti Floodlighting dalam Kencan

Tren Kencan Baru Gen Z, Apa Itu Floodlighting?Ilustrasi kencan floodlighting. (freepik.com)

1. Kamu Langsung Menceritakan Trauma Pribadi

Floodlighting sering terjadi karena keinginan tulus untuk terhubung dengan orang lain, tapi bisa berakhir sebaliknya. Bayangkan kamu sedang dalam kencan pertama dan suasana terasa menyenangkan. Obrolan mengalir lancar, tawa lepas, dan semuanya terasa klop. Karena merasa nyaman, kamu mulai membagikan kisah pribadi yang cukup dalam.

Awalnya, mungkin kamu hanya menceritakan kejadian lucu tentang tersandung di depan kelas. Tapi tanpa sadar, kamu mulai membahas pengalaman bullying yang menyakitkan di masa lalu. Padahal, lawan bicaramu belum tentu siap untuk mendengar cerita seberat itu.

Kalau kamu sering berbagi cerita pribadi seperti putus cinta yang menyakitkan, trauma masa kecil, atau masalah kesehatan mental di pertemuan pertama, bisa jadi kamu sedang melakukan floodlighting dalam hubungan.

Baca Juga: 6 Ide Kencan Romantis untuk Pasangan yang Sibuk Banget, Penting biar Hubungan Gak Hambar

Beberapa orang melakukan ini karena berpikir bahwa kerentanan menciptakan kedekatan secara instan. Padahal, terlalu banyak berbagi justru bisa membuat orang lain mundur karena merasa terbebani secara emosional.

Studi tahun 2022 yang diterbitkan di Psychological Reports menemukan bahwa kecemasan, kebutuhan akan perhatian, dan kecanduan media sosial berhubungan erat dengan kebiasaan oversharing di kalangan remaja.

Meskipun penelitian ini berfokus pada dunia digital, hal ini menunjukkan bahwa keinginan untuk validasi atau kesulitan mengatur batasan bisa berperan dalam perilaku oversharing.

Bersikap terbuka itu penting, tapi waktunya juga harus tepat. Sebelum membagikan sesuatu yang terlalu pribadi, coba tanyakan ke diri sendiri:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Forbes.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tren Kencan Baru Gen Z, Apa Itu Floodlighting?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!