Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 10 AGUSTUS 2020 • 11:52 WIB

Berkenalan dengan Syamil Besayef, Pelajar yang Kritisi Sistem Belajar Online

Author

Berkenalan dengan Syamil Besayef, Pelajar yang Kritisi Sistem Belajar OnlineSyamil Shafa Besayef (Instagram/@syamil_s_besayef)

Tengah viral video yang memperlihatkan seorang pelajar yang mengkritik kebijakan pembelajaran secara daring atau disebut juga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pelajar ini mengaku bahwa dia sering mengikuti kegiatan nasional dan punya banyak teman dari berbagai penjuru Indonesia. Dia kemudian menanyakan pendapat teman-temannya yang ada di pelosok, terkait belajar daring.

"Ternyata yang dari Gorontalo, Lampung, mereka pun memiliki keluhan yang sama. Mereka ada kendala, pertama di gadget, yang kedua di kuota, yang ketiga sinyal dan disana sering mati lampu," kata pelajar tersebut.

Fakta inilah yang menjadi dasar kritikannya. Dia meminta pemerintah tidak menjadikan Jakarta sebagai patokan dalam membuat kebijakan. Di Jakarta segala fasilitas tersedia lengkap dan murah, tidak seperti daerah pelosok Indonesia.

Teman-temannya curhat bahwa mereka hanya diberikan subsidi pulsa sebesar Rp25 ribu, sedangkan harga kuota internet di sana mahal. Tidak seperti Jakarta dimana dengan uang Rp25 ribu bisa mendapatkan kuota berlimpah.

Pelajar ini bernama Syamil Shafa Besayef, seorang siswa kelas 12 di SMAN 7, Jakarta. Dihubungi oleh INDOZONE, Syamil menceritakan bahwa kritikan itu disampaikan pada kegiatan peringatan Hari Anak Nasional dan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI, 23 Juli 2020.

Acara itu menghadirkan narasumber berbagai tokoh seperti Mendikbud Nadiem Makarim, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia I Gusti Bintang Puspayoga, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo.

Kemudian, ada Ketua Dewan Gubernur Perkumpulan Lions Indonesia, Yodianto Jaya, Ketua Family and Women’s Specialist Forum Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307 yang juga anggota DPD RI, Sylviana Murni dan Ketua Panitia HAN 2020 Lions Club MD 307 Tatyana Sutara.

Ada 21 pelajar yang diundang untuk menyampaikan pendapat di kegiatan tersebut serta disaksikan oleh 500 orang se-Indonesia via Zoom.

Syamil menegaskan bahwa dia tidak mendukung dibukanya sekolah di tengah pandemi covid-19. Isu yang dia kritisi adalah fasilitas dan infastruktur belajar online yang masih sangat kurang, terutama untuk pelajar di pelosok Indonesia.

"Saya mendukung pemerintah memberikan dan memperhatikan teman teman yang memiliki masalah kuota, sinyal, dan fasilitas seperti android untuk dibantu," kata Syamil saat dihubungi oleh INDOZONE.

Syamil menceritakan bahwa ada temannya di daerah Sulawesi yang hanya mendapat jatah kuota internet 1 kali per semester sebanyak 2 GB.

Curhatan teman Syamil soal pembelajaran jarak jauh (Dok. Syamil Besayef)

Itu pun tidak semua sekolah dan jenjang pendidikan mendapatkannya.Bantuan kuota internet 2 GB hanya diberikan untuk pelajar SD, sementara SMP dan SMA tidak dapat sama sekali.

"Saya harap minimal ada bantuan kuota gratis untuk siswa, mahasiswa, guru. Mungkin bisa registrasi dengan NISN lalu kuota gratis dari jam 06.00- 12.00. selama pembelajaran saja. Tujuan registrasi agar yang menggunakan fasilitas ini adalah orang orang yang sedang melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh)." tambah Syamil yang merupakan suku Minang ini.

Syamil menyampaikan dalam pertemuan tersebut, menteri Nadiem mengumumkan sekolah yang berada di zona kuning dan hijau boleh dibuka dengan mematuhi protokol kesehatan.

 

Untuk sekolahnya sendiri, SMAN 7 Jakarta, Syamil mengatakan bahwa sekolahnya memberikan fasilitas uang paket internet untuk pelajar yang mengajukan dan membutuhkan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Syamil mengkritik soal efektivitas PJJ. Menurutnya, tanpa kehadiran seorang guru secara langsung untuk membentuk karakter para siswa, maka ruh pendidikan seakan menghilang.

"Kita kurang efektif tidak seperti di sekolah. Di sekolah kita dipantau langsung sama guru. Guru itu kan digugu dan ditiru. Sedangkan kalau kita belajar cuma mau pintar, Google lebih pintar daripada sekolah, menurut saya," katanya.

Pelajar ini menegaskan bahwa sistem pendidikan tidak hanya mencerdaskan semata, tapi juga membentuk karakter para murid.

Guru harus mempersiapkan murid untuk menjadi generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

"Jadi kelebihan guru itu memiliki perasaan terhadap siswa. Mereka mendidik, mereka mengajar, mereka membentuk karakter kita siswa-siswa Indonesia," sambungnya.

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Tags
BERITA TERBARU

Berkenalan dengan Syamil Besayef, Pelajar yang Kritisi Sistem Belajar Online

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!