Kakek Mustakim setia berjualan buku (Z Creators/Haryo Pamungkas)
Mustakim (73) bersiap salat zuhur saat Z Creators Haryo Pamungkas sampai di kediamannya di Jln. Kenanga 39, Jember Kidul, Jember, Jawa Timur Rabu (11/1/2023). Di ruang tamunya itulah nampak tumpukan ratusan buku, majalah, novel, hingga komik. Nyaris semua sudut ruangan yang berukuran 3x5 meter itu dipenuhi buku. Ia mengatakan, kecintaannya terhadap buku dimulai pada 1963.
Mulanya, Mustakim adalah seorang penjual koran dan menggelar lapak buku di dekat Pasar Tanjung, Jember. Semua buku dagangannya ia dapatkan dari sebuah toko buku yang tutup.
“Dulu, awalnya saya jualan koran, kalau enggak salah tahun 1963. Keliling dari Pasar Tanjung sampai Rumah Sakit Soebandi di Patrang. Terus ada toko buku yang tutup, saya ditawari buat mengganti buku-bukunya,” ujarnya.
Awalnya Mustakim ragu, apalagi ia enggak punya modal untuk berjualan buku.
“Awalnya saya ragu, darimana uangnya buat modal? Untungnya yang jual bilang dibawa dulu, uangnya belakangan saja. Sejak itu saya mulai menggelar lapak di dekat Pasar Tanjung untuk berjualan buku, ternyata yang beli banyak sekali hingga antre. Saya sampai panas-dingin memegang uang segitu,” kenangnya.
Saat pertama berjualan buku, Mustakim mengaku enggak bisa membaca dan tak lulus sekolah rakyat (sekolah dasar). Keinginannya belajar membaca muncul karena merasa malu kepada pembeli.
“Saya ini kan jualan buku, masa enggak bisa baca, jadi malu sama yang beli,” katanya.
Ia lantas belajar dan bertanya ke sana-sini agar bisa membaca.
Perjalanan Mustakim berjualan buku diwarnai naik-turun. Ia bercerita bagaimana iklim perbukuan dulu dan sekarang. Juga perjuangannya bertahan di sana. Sekitar tahun 1998-2004 ia sempat berhenti berjualan buku. Menyerah, katanya, ia merasa tak enak dengan mendiang istrinya sebab saban hari tak satupun buku-bukunya laku.
“Saya sampai keliling ke sekolah-sekolah, ternyata mereka sudah tidak memakai buku yang lama. Sudah berganti kurikulum. Tiap hari saya berkeliling dan tak satupun buku yang terjual.” Ungkap Mustakim.
Baca Juga: Toko Buku Akik: Humble Place Bergaya Vintage di Jogja, Bikin Dian Sastro Jatuh Cinta
Tiga tahun kemudian ia memutuskan kembali berjualan buku. Tapi tak lagi berkeliling dan hanya menunggu pembeli di rumahnya. Pembelinya tak banyak, setidaknya ada tiga hingga lima mahasiswa dan dosen yang mencari buku ke rumahnya.
Kini, Mustakim tinggal sendiri setelah istrinya meninggal dan anak-anaknya menikah. Ia menghabiskan masa tuanya bersama buku-buku.
Di tengah era buku digital, Mustakim masih yakin buku cetak tetap dibutuhkan. Enggak hanya transfer ilmu katanya, membaca buku juga bisa mengajarkan sabar, tabah, dan berhati luas. Kesetian Mustakim kepada buku adalah sesuatu yang tak ternilai.
Artikel Menarik Lainnya:
7 Fakta Siswa NTT Juara Lomba Matematika Dunia, Anak Petani yang Ingin Seperti Elon Musk
Bahagianya! Bocah NTT Juara Lomba Matematika Dunia Dapat Beasiswa hingga SMA dari Idolanya
Punya Otak Cemerlang, Nono Juara Matematika Dunia dari NTT Doyan Makan Daun Ini!
Gokil! Warung Iga Bakar Ini Enggak Pernah Tutup, Sehari Habiskan 1 Kwintal Daging!
5 Rekomendasi Makanan Khas Blora yang Menggugah Selera, Semua Pakai Daun Jati
Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: