Setiap wanita tentu ingin memiliki kulit putih, cerah dan sehat. Namun, belakangan ini banyak wanita yang lebih mengutamakan untuk punya kulit putih dibanding dengan kulit yang sehat. Bagi mereka, kulit putih akan membuat penampilan lebih percaya diri.
Sayangnya, untuk mendapatkan kulit putih, sebagian perempuan justru memilih jalan pintas dengan melakukan suntik putih. Hal ini pula yang jadi penyebab klinik-klinik kecantikan menawarkan metode suntik putih.
Bahkan publik figur seperti Barbie Kumalasari, secara terang-terangan mengaku bahwa ia perawatan suntik putih yang dilakukannya seminggu sekali.
"Pasalnya orang Indonesia masih mendambakan kulit putih, mereka enggak ngerti kalau dasarnya kulit Indonesia sama orang Korea misalnya itu kan beda. Tak ada produk yang sudah dapat lisensi BPOM itu bisa bikin kulit langsung putih. Namanya skincare hanya bisa merawat, semakin sering dirawat maka semakin bersih dan sehat," kata Maharani Kemala pendiri produk kecantikan, melansir dari ANTARA.
Padahal perawatan suntik putih ini memiliki dampak negatif jika tidak dilakukan dengan benar oleh pakarnya. Mulai dari emboli udara sampai infeksi sistemik yang bisa menyebabkan kematian.
"Laporan kasus morbiditas pada penyuntikan vitamin pencerah kulit umumnya memberikan sebab penggunaan alat tidak steril, cara penyuntikan salah, dan obat palsu sebagai sebab masalah kesehatan serius pada pasien seperti emboli udara, alergi berat sindrom steven johnson, sepsis atau infeksi sistemik, dan lain-lain," kata pakar dermatologi, dr Eddy Karta SpKK.
Dr Eddy bahkan menambahkan bahwa kasus kematian karena suntik putih mencapai 75 persen.
Menurut dr Eddy, suntik pemutih dari suatu produsen bisa berbeda dari kajian ilmiah pasien yang berhasil melakukannya atau literatur review bidang dermatologi.
Meskipun banyak zat aktif dalam suntik pemutih, namun hanya sedikit yang valid. Suntik pemutih sebenarnya ada yang berisi vitamin C atau cairan asam askorbat berwarna jernih kekuningan.
Sementara itu, metode penyuntikan vitamin C ada beberapa cara yakni melalui otot (intramuskular), penyuntikan di bawah kulit (subkutan), serta pembuluh darah (intravena).
"Vitamin C intravena dosis 1000 mg - 4000 mg dapat diberikan dengan teknik pemberian dan jadwal pemberian tergantung pengalaman dokter dan hasil pemeriksaan pasien," kata dr Eddy.
Cara kerjanya ialah, vitamin C berinteraksi dengan gugus cuprum pada enzim tyrosinase, sehingga enzim tyrosinase yang berfungsi membentuk melanin jadi kurang aktif. Sedangkan, dalam sekali penyuntikan, kandungan vitamin C mencapai dosis 600 mg-1200 mili gram. Ini diberikan sekali sampai dua kali seminggu, tergantung dari hasil pemeriksaan dokter.
Selain vitamin C, suntik putih juga ada yang mengandung reduced glutathione atau biasa disingkat GSH. Kandungan ini menurut dr Eddy lebih baik kandungan hayati-nya alias bioavailabilitasnya.
Glutathione bekerja dengan cara menghambat enzim tyrosinase dan memecah granul melanin pekat menjadi melanin tidak pekat (eumelanin jadi feomelanin).
"Beberapa tahun ini ada penemuan asam traneksamat yang bisa menghambat plasmin, asam arachidonat, dan alpha melanocyte stimulating hormone. Yang pada akhirnya menekan produksi melanin oleh sel kulit," kata dr Eddy.
Kandungan glutathione diberikan sebagai topikal atau krim dan mesotherapy, atau suntikan ke permukaan kulit yang ada bercak hitamnya. Namun belakangan, kandungan ini juga digunakan untuk infus atau obat minum.
"Dosis obat minum dua kali 250 mg sehari sementara untuk infus atau suntikan belum ditetapkan yang untuk kulit. Lebih baru lagi thioctic acid atau alpha lipoic acid yang diberikan 500 mg - 1200 mg per hari untuk kasus saraf ternyata memiliki efek pemutih kulit lewat jalur antioksidan pada kulit yang rusak akibat radiasi UV dan secara langsung juga dalam biosintesis melanin. Hal ini perlu penelitian lanjutan," kata dr Eddy.
Mendapatkan kulit putih dengan cara suntik putih memang dinilai lebih cepat dan praktis. Namun, tentu saja cara ini memiliki dampak negatif untuk kesehatan.
Penggunaan dosis tinggi dalam suntik putih akan mengakibatkan sesak atau rasa berat bernapas, hipersekresi asam lambung, kerusakan pembuluh darah tempat penyuntikan dan pingsan.
Sedangkan, efek samping suntik putih yang mengandung vitamin C dapat menyebabkan batu ginjal rusak. Sementara itu, kandungan gluathione bisa menimbulkan alergi dan ruam kulit, perburukan gangguan tiroid, hingga keram otot perut.
Lantas, adakah cara agar kulit bisa putih dengan cara yang tidak berbahaya?
"Yang paling aman ialah mencegah kulit menjadi lebih hitam dengan selalu menggunakan tabir surya krim di wajah dan tabir surya losion di badan. Jika berjemur di bawah matahari jangan lupa dioles ulang setiap tiga jam," kata dr Eddy.
Dr Eddy juga menambahkan, mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung vitamin C dan antioksidan dapat memberikan efek cerah di kulit.
Sementara untuk mengubah warna kulit, dr Eddy menyarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Dengan begini, dokter akan memberikan krim wajah yang aman.
"Bisa juga dengan laser whitening, atau juga IPL whitening, sekarang ada juga ruang fototerapi whitening atau disebut juga white tanning. Ruang ini memanfaatkan gelombang yellow light 645 nm akan diserap oleh melanin dan menyebabkan pigmen panas dan menguap," kata dr Eddy.
Dr Eddy mengimbau, untuk mendapatkan kulit cerah dengan pengggunaan krim dan losion, harus dilakukan secara berulang kali, satu hingga dua kali sehari. Sedangkan untuk fototerapi bisa dilakukan dua sampai tiga kali seminggu sesuai dengan anjuran dokter. Untuk penggunaan laser, cukup dilakukan sekali dalam sebulan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: