Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, SpA (K)., MSi mengungkap setiap tahun di Indonesia selalu terjadi kejadian luar biasa (KLB) campak, rubella, dan difteri. Kasus-kasus tersebut telah menambah daftar panjang dengan catatan kematian dan kecacatan pada bayi.
Sayangnya kondisi tersebut tidak diimbangi dengan cakupan imunisasi bagi anak-anak. Bahkan sejak pandemi COVID-19 melanda, cakupan imunisasi anak terhitung menurun sehingga perlindungan terhadap kekebalan tubuh anak juga menurun.
Baca juga: CDC Ungkap Gejala Cacar Monyet, Mirip Flu hingga Ruam di Alat Kelamin dan Anus
Hal serupa juga diungkapkan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr. Reisa Broto Asmoro. Menurut dr Reisa, ada 1,7 juta bayi yang belum mendapatkan suntikan vaksin imunisasi dasar selama pandemi COVID-19.
Dia menyebut penundaan ini terjadi karena adanya pembatasan yang menimbulkan rasa khawatir para orang tua.
"Berdasarkan data kemenkes sekitar 1,7 juta bayi sampai saat ini belum mendapatkan imunisasi dasar. Selama periode 2019-2021 atau selama pandemi ini berlangsung," ucapnya dalam siaran sehat di akun Instagram Kementerian Kesehatan yang dilihat, Minggu (5/6/2022).
Karena itulah, dr Reisa mengingatkan orang tua untuk segera melakukan imunisasi dasar, sebab sangat penting bagi anak.
Suntikan vaksin imunisasi dasar bermanfaat agar anak terlindungi dari perburukan bila terinfeksi virus tertentu. Kalaupun terinfeksi, tidak akan mengalami gejala berat atau perburukan, dibandingkan anak yang belum pernah imunisasi/belum lengkap.
“Makanya penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi yaitu kita punya istilahnya PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi), sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. Seperti Tuberkulosis, Campak, Rubela, Hepatitis B, Difteri, Polio, Miningitis, dan masih banyak lagi," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: